Uncategorized

MATCHMAKING [Part 1]

match making deal

Author: Shin Hyeonmi

Park Jungsoo | Baek Su Min

 

 

Su Min kembali menatap pantulan dirinya di depan kaca spion mobil dan merapikan kembali rambut panjangnya yang tergerai sebelum kemudian gadis itu melemparkan kunci mobilnya kepada salah seorang pegawai hotel yang berjaga di depan untuk memarkirkan mobilnya. Setelahnya ia menegakkan tubuhnya kembali dan merapikan gaun putih selutut yang ia gunakan. Di rapikannya dress tersebut di bagian rok bawahnya sehingga terlihat lebih tertata dan menampakkan kaki jenjangnya.

Sesaat gadis itu berhenti, menatap bangunan besar yang ada di hadapannya. Ritz-Carlton, sebuah hotel berbintang lima yang cukup ternama di negara ini. Aneh. Untuk apa ayah dan ibunya membuat acara makan malam keluarga hari ini di hotel besar seperti ini. Biasanya memang kedua orangtuanya sering makan malam di tempat seperti ini, tapi itu adalah makan malam bisnis, dimana dalam acara tersebut hanya diisi oleh orang-orang yang memiliki bisnis besar di Korea.

Dan hari ini, mereka mengatakan pada Su Min bahwa ini adalah acara makan malam biasa tapi di sisi lain mereka juga mengatakan agar Su Min berpakaian cantik hari ini bahkan ia harus berdandan selama beberapa jam hari ini di salon untuk tampil sesuai dengan yang diinginkan orang tuanya.

“Ahh molla.” Kata gadis itu kemudian sambil mulai melangkahkan kakinya memasuki hotel tersebut dan menuju tempat pertemuan keluarganya.

Apapun yang di rencanakan oleh orang tuanya malam ini, ia tidak akan ambil pusing. Ia hanya akan menghabiskan makan malamnya dengan cepat hari ini dan segera pergi dari tempat itu dan menuju salah satu club malam dimana teman-temannya hari ini berkumpul dan mengadakan pesta sampai pagi hari ini.

Dilangkahkannya kakinya kemudian menyusuri lobby hotel dan menuju restoran yang telah dipesan kedua orang tuanya. Pelan namun pasti ia melangkahkan kakinya sambil kedua matanya tetap memperhatikan logo hotel tersebut tergantung di dindingnya, simple namun memberi arti yang besar.

Hal lain yang dapat ia temukan adalah tata letak setiap benda yang ada disini, begitu artistik, dan sepertinya hotel ini memang sengaja di bangun untuk kalangan atas sehingga seluruh desainnya benar-benar terkesan simple namun tetap mengandung nilai elegan yang cukup kental.

Su Min menghentikan langkahnya ketika dirinya telah sampai di depan restoran Internasional yang ia tuju. ‘The Garden’ gadis itu menatap baik-baik tulisan besar yang terpampang di depan pintu kaca restoran tersebut. Sepertinya benar ini restoran yang dimaksud eomma dan appa, ucapnya dalam hati.

Beberapa hari terakhir ini kedua orang tuanya memang tengah tergila-gila dengan dunia Eropa terlebih Perancis hingga hari ini mereka bahkan memilih makan malam di sebuah restoran berkelas seperti ini yang sudah barang pasti menyediakan menu-menu negara tersebut. Mungkinkah salah satu rekan bisnis appa-nya adalah orang perancis? Entahlah, tapi tak biasanya orang tuanya sampai mencari tahu segala hal yang berbau Perancis seperti ini jika sedang melakukan bisnis.

“Aku putri dari Baek Ah Young yang hari ini mengadakan makan malam disini.” Ucap Su Min pada salah satu pelayan yang berjaga di depan.

Tak lama kemudian pelayan tersebut segera memanggil pelayan yang lain untuk mengantarkan Su Min ke ruangan yang telah di pesan oleh orang tuanya. Kedua orang tuanya sengaja memilih ruangan indoor hari ini, padahal sebenarnya restaurant ini sudah cukup terkenal dengan nuansa outdoornya yang tak kalah indah.

Gadis itu segera memasuki ruangan tersebut dan menemukan kedua orang tuanya yang telah berada di dalam bersama dengan seorang pria yang tak begitu ia kenali. Benar bukan, tidak mungkin kedua orang tuanya membuat acara makan malam di tempat semewah ini jika tidak ada maksud lain yaitu menemui rekan bisnisnya. Tapi untuk apa ia harus ikut acara bisnis seperti ini, bukankah selama ini orang tuanya sudah mengetahui bahwa ia sama sekali tidak memiliki minat dalam hal lain selain shopping apalagi di bidang bisnis.

“Su Min-ah, dia adalah CEO OL Group, Park Jungsoo.” Kata ibunya memperkenalkan pria itu.

Gadis itu membalikkan badannya menghadap ke arah pria bernama Park Jungsoo itu, kemudian menundukkan tubuhnya memperkenalkan diri, “Baek Su Min imnida.”

Sepertinya pria ini masih cukup muda untuk seukuran CEO, batin Su Min. Jika di kira-kira mungkin umurnya baru saja menginjak angka 30 puluh tahun dan sudah menjadi seorang CEO dari perusahaan besar, apakah ia adalah orang yang hebat? Sepertinya begitu.

Tapi percuma saja, sehebat apapun dia toh pada dasarnya gadis itu tak memiliki minat apapun dalam hal bisnis, jadi sudah pasti tak butuh waktu lebih lama ia akan segera melupakan perkenalannya dengan bos besar seperti lelaki itu.

Su Min menempatkan dirinya duduk di kursi yang tepat berada di sebelah Jungsoo, sementara kedua orang tuanya duduk tepat di seberangnya. Sepertinya hari ini acara makan malam keluarga telah diubah menjadi makan malam bisnis karena kehadiran pria itu, jadi akan lebih baik untuk Su Min jika ia diam saja tanpa mengikuti pembicaraan mereka.

Hari ini ia akan bertingkah baik, tidak seperti biasanya yang selalu cerewet kepada kedua orang tuanya. Bahkan gadis itu sudah menuliskan skenario yang akan ia mainkan hari ini untuk diam dan menghabiskan makanannya dengan cepat dan segera pergi meninggalkan ruangaan pertemuan ini.

Sesaat gadis itu merasakan kakinya yang sengaja di senggol oleh Ibunya, diangkatnya kemudian wajahnya menatap sosok sang Ibu yang duduk di hadapannya. Awalnya ia tak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Ibunya, namun pada akhirnya ketika melihat tatapan ibunya pada sebotol wine merah yang terhidang di meja tersebut ia mengerti bahwa sang ibu memintanya untuk menuangkan wine tersebut ke gelas milik rekan bisnis ayahnya.

“Dia adalah anak dari Park Yong In, yang pernah kita temui saat ke Paris beberapa bulan yang lalu. Apakah kau ingat?” kata ibunya lagi ketika gadis itu mulai menuangkan wine tersebut.

“Ne?” gadis itu berpikir sejenak, dan mulai mengangguk-anggukan kepalanya atas pertanyaan ibunya, “Ahh, Park Yong In ahjushi.” Jawabnya.

Sebenarnya ia tak mengingat siapa sosok yang dimaksudkan Ibunya, hanya saja jika ia mengatakan hal itu di moment seperti ini maka akan membuat suasana menjadi kacau bukan?

“OL Group Korea adalah cabang perusahaan yang pusatnya ada di Paris, dan Park Jungsoo inilah yang membua OL Group menjadi besar di Korea. Hebat bukan?” kata ibunya lagi.

Sementara Su Min hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan ibunya seolah ia mengerti semua yang dikatakan ibunya. Padahal dari awal sampai kalimat terakir yang diucapkan oleh sang Ibu semuanya terasa seperti angin lalu untuknya. Persetan apa itu OL Group, siapa itu Park Yong In dan sehebat apa Park Jungsoo, semuanya akan menguap begitu saja untuk Su Min.

Beberapa bulan yang lalu, ayahnya memang pergi ke Paris untuk urusan bisnis, dan seperti tradisi-tradisi lainnya jika sang ayah pergi melakukan kunjungan ke luar negeri seperti itu maka seluruh anggota keluarganya akan ikut dalam rombongan. Ia dan ibunya bahkan sudah melalang buana ke beberapa negara yang menjadi tujuan bisnis ayahnya selama ini.

Ibunya adalah satu-satunya orang yang bisa mengurusi segala perlengkapan dan kebutuhan ayahnya dan itu sebabnya kemanapun ayahnya pergi maka sudah bisa di pastikan ibunya akan ikut. Sementara Su Min? Pernah tahun lalu mereka pergi melakukan kunjungan bisnis ke Cina tanpa mengajak Su Min untuk ikut bersama, dan gadis itu justru berbuat ulah dengan mengajak seluruh teman-temannya berpesta dan membuat rumah mereka layaknya club malam.

Dan semenjak kasus itulah mereka bahkan tidak pernah lagi meninggalkan Su Min di rumah sendirian, atau setidaknya mereka akan meminta sepupu jauh Su Min untuk menjaga gadis itu ketika mereka berencana pergi. Tapi sayangnya satu-satunya sepupu mereka yang ada di Korea itu kini sudah kembali ke Jepang, berkumpul bersama keluarga besar mereka yang memang menetap di Jepang saat ini.

“Bagaimana menurutmu tentang Putriku?” tanya ayah Su Min pada lelaki bernama Park Jungsoo tersebut.

Sesaat pria itu menoleh memperhatikan penampilan Su Min dengan intens, membuat gadis itu untuk sesaat merasakan tidak nyaman karena terlalu di perhatikan. Sadar bahwa gadis itu tidak nyaman dengan tindakannya, Jungsoo segera memalingkan pandangannya kembali menatap tuan Baek dan juga istrinya yang duduk di seberangnya dan memberikan senyum pada mereka.

“Dia sangat cantik, seperti ibunya.” Jawab pria itu yang kemudian di sambut dengan tawa dari ibu Su Min.

Sementara Su Min tak mau terlalu memperdulikan apa yang mereka bicarakan. Ia lebih memilih untuk diam dari pada menanggapinya. Faktanya ia memang cantik, dan ia menyadari itu sudah sejak lama, jadi ketika ada orang lain yang memujinya cantik ia tidak akan begitu mudah terpesona karena pujian tersebut karena terkadang di belakangnya orang-orang tersebut masih sering membicarakannya dengan mengatakan bahwa ia adalah gadis sombong karena tak pernah memperlihatkan senyumannya di hadapan umum.

Gadis itu kembali menelan potongan daging sapi berkualitas tinggi yang terhidang di hadapannya dengan kasar. Yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana ia menghabiskan makanannya dengan cepat dan segera meninggalkan ruangan yang sangat membosankan ini. Ia ingin segera berpesta dengan teman-temannya yang lain yang saat ini mungkin sudah menunggunya di club malam yang menjadi tempat tongkrongan mereka.

“Su Min-ah, bagaimana kalau kami menjodohkanmu dengan Park Jungsoo?”

Praaang.. gadis itu reflek menjatuhkan sendok dan garpu yang masing-masing berada di genggaman tangan kiri dan kanannya ke lantai, membuat suasana yang tadinya begitu hangat seketika itu juga berubah menjadi panas.

Apa yang baru saja ia dengar dari bibir sanga ayah? Menjodohkannya dengan pria ini? Bahkan ini baru pertama kalinya ia bertemu dengan pria ini, bagaimana bisa kedua orang tuanya berpikir untuk menjodohkan mereka? Dan lagi, mengapa mereka tidak bertanya terlebih dahulu tadi pagi ketika masih di rumah, apakah saat ini Su Min memiliki kekasih atau tidak? Mengapa orang dewasa selalu bertindak semau mereka sendiri?

“Untuk inikah kalian membuat acara makan malam di tempat ini?” jawab gadis itu dingin.

“Su Min-ah.” Kata sang ibu pelan sambil mulai meraih telapak tangan Su Min dan menggenggamnya, mencoba meyakinkan Su Min agar tak terburu-buru emosi.

“Untuk inikah eomma memintaku berdandan malam ini?” tanyanya lagi pada sang Ibu, masih dengan wajah khasnya yang terlihat seperti tokoh-tokoh antagonis di dalam drama.

Apakah mereka mencoba untuk membuatkan sebuah pernikahan bisnis untuknya? Benar-benar keterlaluan. Selama ini ia pikir pernikahan bisnis seperti itu hanya akan ia temukan di dalam cerita-cerita drama, dimana anak-anak dari pemilik perusahaan ternama akan di jodohkan dengan mereka yang juga menjadi ahli waris perusahaan besar.

Tapi tidak, nyatanya itu juga yang kini dilakukan oleh orang tuanya.

Kalau boleh ia membenci orang tuanya, sungguh ia akan melakukannya saat ini juga. Mereka adalah orang-orang yang selama ini ia anggap seperti malaikatnya yang selalu memberikan segala hal yang ia inginkan. Kemewahan, uang yang melimpah, dan semuanya yang ia inginkan agar menjadi sosok yang sangat berkelas di kalangan teman-temannya, tapi nyatanya kini semua hal yang ia banggakan dari kedua orangtuanya itu seketika runtuh karena hal ini.

“Aku sudah tidak bernafsu makan. Aku pergi.” Kata gadis itu sambil mengelap bibirnya dengan selembar tissu dan kemudian segera berdiri, melangkahkan kakinya meninggalkan mereka bertiga disana.

“BAEK SU MIN.” Teriak ayahnya yang bahkan sama sekali tak ia hiraukan dan tetap melanjutkan langkahnya keluar dari tempat tersebut.

Diangkatnya tinggi-tinggi wajahnya saat berjalan keluar dari kawasan restoran tersebut, semakin memperlihatkan bahwa inilah dirinya yang sesungguhnya. Seorang gadis keras kepala yang tak ingin sedikitpun kehidupannya dicampuri oleh kepentingan bisnis orang tuanya.

Salahkah jika ia bertingkah seperti ini? Bukankah ini memang didikan orang tianya selama ini, untuk melakukan apapun sesuai dengan yang ia inginkan. Dan ia tidak menginginkan perjodohan atau apapun yang ada di dalam pikiran kedua orang tuanya, jadi untuk apa ia harus lebih lama berada di ruangan itu tadi.

Ia sudah cukup muak dengan mereka bertiga, terlebih lagi pada lelaki itu, Park Jungsoo. Apa dia lelaki gila? Ahh tidak, pasti dia adalah lelaki yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga tak sempat menemukan sosok yang mencintainya dan kini lelaki itu baru menyadari semua saat umurnya sudah terlalu tua.

Dia ingin menikah, tetapi tak ada wanita yang mencintainya dan ia berusaha mendapatkan wanita cantik dan muda sepertinya untuk di nikahi dengan iming-iming bisnis yang benar-benar di gilai oleh ayahnya.

“Dasar PICIK.” Teriak gadis itu sambil menghentakkan kakinya kesal ketika sampai di luar gedung hotel.

Sesaat ia kembali menolehkan pandangannya menatap bangunan hotel yang menjulang, yang tadi bahkan sempat ia kagumi karena begitu besar dan tampak elegan dari luar. Tapi kini tidak, sekuat dan sebagus apapun hotel ini, faktanya bangunan ini menjadi salah satu faktor yang membuat moodnya rusak saat ini.

Cukup lama gadis itu berdiri di depan gedung hotel, menunggu pegawai hotel yang membawakan mobilnya dari tempat parkir. Kembali ia mengentakkan ujung heels yang ia kenakan dengan keras pada pelataran hotel yang ia pijak. Ia ingin segera pergi dari tempat ini, ia ingin segera mencari hiburan dengan berkumpul bersama teman-temannya.

Apapun yang akan terjadi nantinya, kali ini ia benar-benar tidak berniat untuk pulang ke rumah. Mungkin ia akan menghabiskan malamnya kali ini dengan meminum alkohol sampai mabuk dan bermalam di apartemen Dujun, kekasihnya.

Gadis itu kembali memperhatikan ke arah parkir dan melihat mobilnya yang mulai berjalan ke luar tempat tersebut dan mendekat padanya. Ia bahkan sudah bersiap untuk memaki-maki pegawai hotel yang mengambilkan mobilnya tadi jika ia memberikan kunci mobilnya nanti.

Jika kau mengira seorang anak konglomerat sombong yang melampiaskan emosinya dengan memaki setiap orang berkasta rendah hanya ada di dalam sebuah drama maka itu salah besar, karena faktanya hal itupula yang dilakoni oleh Su Min selama ini. Gadis itu takkan segan-segan melaporkan tindakan malas pelayan hotel ini kepada atasannya dan untuk membuat mereka kehilangan pekerjaannya apabila ia sedang berada dalam mood yang buruk seperti ini.

Setidaknya hal itulah yang bisa dilakoni anak konglomerat bukan? Dan kini ia bahkan telah menggenggam ponsel di tangan kanannya. Bersiap-siap untuk mengancam pegawai hotel yang mengambilkan mobilnya itu dengan menelepon pemilik hotel ini.

Tapi seketika ia tercekat, menyadari siapa orang yang berada di dalam kemudi mobilnya saat ini.

“Yak, keluar dari mobilku. Cepat.” Pekik gadis itu saat melihat Park Jungsoo berada di dalam mobilnya dengan wajah yang santai. Sementara Su Min sudah semakin dibuat emosi olehnya saat ini karena pria itu seolah tak menyadari bagaimana ia saat ini benar-benar ingin menguliti pria itu.

“Masuklah, aku akan mengantarkanmu pulang.” Kata pria itu sambil tersenyum menatap Su Min dari dalam mobil, memperlihatkan senyuman khas yang ia miliki, senyuman yang di hiasi simple di pipi sebelah kirinya.

“Tidak perlu, aku bisa pulang sendirian.” Jawab Su Min.

Tapi pria itu tak menanggapinya. Sepertinya ia sudah tau bahwa Su Min sudah pasti akan menolaknya, dan kini ia sudah mempersiapkan rencana lain.

Jungsoo keluar dari mobil Su Min, dan berjalan mendekat pada gadis itu, namun tidak memberikan kunci mobilnya. Dengan kuat, pria itu justru membuka pintu penumpang mobil Su Min di bagian depan dan segera memegang kedua pundak Su Min dan mendorong dari belakang tubuh gadis itu, membuat Su Min duduk di kursi penumpang.

Dengan cepat Jungsoo kembali masuk ke dalam kursi kemudi mobil itu, menghidupkan mesin mobilnya dan segera menjalankannya menembus jalanan daerah Gangnam.

“YAK!!” Tanya Su Min sinis pada lelaki yang menyetir mobilnya itu. “Aku bisa melaporkanmu ke polisi dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan.” Ancamnya.

Tapi pria itu tampak tenang dan tak peduli pada ancaman Su Min sedikitpun, “Laporkan saja, aku sudah mendapat ijin dari orang tuamu.” Jawabnya santai.

Gadis itu menghembuskan nafasnya sebal. Baiklah seluruh hidupnya memang benar-benar diatur oleh kedua orang tuanya saat ini. Bukan hanya masalah perjodohan, kini bahkan kedua orang tuanya membiarkan lelaki ini untuk menyetir mobil yang mereka berikan untuk Su Min.

“Apa kau perjaka tua?” tanya Su Min kesal.

Ia sengaja mengatakan hal tersebut agar pria itu merasa tersindir dan marah padanya. Kemungkinan besar jika pria itu telah terluka oleh perkataan Su Min maka ia akan menyerah dari perjodohan ini bukan?

Tapi tidak, justru pria ini masih tetap terlihat santai mengemudikan mobilnya seolah tak mendengarkan apa yang baru saja ia ucapkan. Padahal gadis itu sangat yakin jika tadi ia telah mengucapkan kalimat itu dengan cukup keras, jadi tidak mungkin pria itu tidak mendengarkannya.

Kembali gadis itu menolehkan wajahnya, menatap baik-baik pria yang membawa kemudi mobilnya saat ini, “Baiklah, katakan padaku mengapa kau ingin menikahiku?” ucapnya kemudian.

Berkata dengan emosi yang berapi-api pada kenyataanya tidak membuat apa yang ia inginkan terkabul bukan? Jadi mungkin lebih baik saat ini ia meredamkan emosinya dan kembali menormalkan kondisinya.

“Apa aku mengatakan aku ingin menikahimu?” tanya pria itu balik, “Orangtuamu yang menginginkan perjodohan ini.” Katanya lagi dengan santai.

Su Min seketika itu juga membuang mukanya dari pria itu setelah mendengarkan kalimat menyombongkan diri yang diucapkan oleh pria bermarga Park tersebut. Tidak salahkan kedua orang tuanya memilih pria ini untuknya? Bukankah mereka sendiri sudah menyadari bahwa Su Min sedikit banyak memang berwatak sombong, dan bagaimana bisa mereka memilihkan pria yang tak kalah sombong ini untuknya?

“Mungkin kau belum mendengarnya dari orang tuamu, jadi sebelum kau tau dari orang lain, lebih baik kau mengetahuinya dariku,” pria itu mengehentikan ucapannya sejenak dan mencoba mengambil nafasnya lebih dalam sebelum melanjutkan kata-katanya, “Aku adalah seorang duda, dengan satu putri.” Lanjutnya.

“MWOYA??” pekik Su Min.

Sontak gadis itu terkejut mendengar pengakuan dari pria itu. Apa kedua orang tuanya sudah gila mau menjodohkan putri mereka satu-satunya dengan seorang duda beranak satu seperti ini?

Sehebat apa kemampuan lelaki ini dalam berbisnis hingga membuat kedua orang tuanya bahkan tak memperdulikan bagaimana status yang ia miliki tersebut?

“Begitulah. Dan sekarang bisakah kau katakan padaku orang seperti apa dirimu?” tanya Jungsoo balik padanya.

Tentunya aku masih seorang gadis tuan, jawab Su Min dalam hati. Tentu saja, kalau pria itu mengira ia adalah seorang janda atau apapun yang selevel dengan itu, maka ia salah besar. Bahkan dengan sekali menatapnya saja setiap orang akan dapat dengan cepat menyimpulkan bahwa ia adalah gadis ke kanak-kanakan yang di besarkan dengan gelimangan harta oleh orang tuanya.

“Kau akan terkejut jika mengetahui diriku yang sebenarnya.” Jawab sambil memerhatikan menatap jalanan yang ada di depannya.

Beberapa saat setelahnya, gadis itu dapat mendengar suara tawa yang keluar dari pria itu. Apa dia pikir ini lucu? Omelnya dalam hati. Namun beberapa saat setelahnya, gadis itu memalingkan wajahnya, menatap Jungsoo yang tengah menertawakan ucapannya tadi.

Lesung pipi itu? Seketika itu juga pandangannya mulai tertuju pada dimple yang diperlihatkan Jungsoo ketika sedang tertawa seperti ini. Bukankah ia sangat menyukai pria dengan lesung pipi seperti ini?

Dan pria itu memilikinya. Pria yang dipilihkan kedua orang tuanya ini memiliki dimple di salah satu pipinya ketika sedang tersenyum ataupun tertawa. Manis memang namun di detik berikutnya gadis itu segera membuang pikirannya, bukankah ia membenci pria ini? Jika awal hubungan mereka tidak dimulai dengan perjodohan yang sangat dibencinya, mungkin ia masih akan mempertimbangkan pria ini.

Ahh tunggu, bukankah dari awal pria ini memang sama sekali tidak termasuk tipe yang ia sukai? Pria ini tua dan juga sepertinya tidak begitu mengenal dunia malam yang ia cintai, jadi untuk apa ia harus sedikit goyah pada keputusan awalnya membenci sosok ini?

“Kau menertawakanku?” tanya gadis itu.

“Ne. Karena kau lucu.” Jawabnya.

“Cihh, asal kau tau. Aku adalah gadis yang buruk” jawab gadis itu, “Aku tidak akan segan-segan menghabiskan uang untuk berbelanja dan juga menghabiskan waktuku untuk clubbing,” lanjutnya.

Park Jungsoo mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali, mencoba memberikan isyarat pada Su Min bahwa ia mengerti apa yang di maksud oleh gadis itu. Tetapi jauh di dalam lubuk hatinya, ia sadar bahwa kini gadis itu tengah berusaha sekuat tenaganya agar terlihat buruk.

“Kau bisa menumpang mobilku sampai di depan Club Heaven, karena aku ada janji dengan teman-temanku disana.” Kata gadis itu.

Lagi, Park Jungsoo mengangguk pada Su Min sambil kedua matanya tetap memperhatikan jalanan yang ada di depannya, “Maaf nona muda, tapi aku sudah berjanji pada orang tuamu untuk membawamu ke rumah.” Jawab pria itu kemudian.

Dengan cepat gadis itu mengalihkan pandangannya menatap jalanan dan menyadari bahwa mobilnya telah melewati Club Heaven dan saat ini sedang melaju menuju rumahnya yang ada di Apgujeong, “YAK, HENTIKAN MOBILNYA.” Teriaknya seketika itu juga.

**

“Appa”

Jungsoo segera menutup pintu rumahnya ketika mendengar suara teriakan seorang anak kecil memanggilnya. Pria itu menoleh dan mendapati seorang gadis kecil tengah berlari ke arahnya dengan senyuman gembira.

Sesaat pria itu berjongkok, menyambut gadis itu yang datang memeluknya. Di ciumnya kuat aroma harum khas anak kecil berumuran enam tahun yang ada pada putrinya itu dan tangannya mulai mengusap lembut ujung rambut putrinya dengan lembut, “Kau belum tidur?” tanyanya kemudian.

Gadis itu menggeleng dan menatap tajam ke arah Jungsoo, di silangkannya kedua tangannya kemudian di depan dadanya sambil mulai menunjukkanraut wajahnya yang sedang marah, “Appa berjanji padaku pagi ini akan membacakan dongeng sebelum aku tidur,” kata gadis itu.

Jungsoo tertawa dan menyadari bahwa ia benar-benar lupa telah melakukan janji kitu pada putinya. Hari ini terlalu banyak pekerjaan yang ia selesaikan hingga ia terlupa pada janjinya untuk membacakan dongeng pada putrinya sebelum ia tertidur. Dan kini wajar saja jika gadis itu masih menungguinya hingga larut malam seperti ini hanya untu menagih janji yang ia ucapkan.

“Mianhae, appa terlalu sibuk bekerja.” Kata pria itu kembali mengusapkan jemarinya di puncak kepala anak gadisnya, kemudian mengangkat tubuh mungil tersebut ke atas gendongannya, “Cah, kita ke kamarmu sekarang, appa akan bacakan dongeng untukmu.” Kata pria itu sambil berjalan membawa gadis kecil itu ke kamarnya.

Sesaat pria itu melirik ke arah jam dinding yang tergantung di salah satu sisi dinding rumahnya. Di hembuskannya nafasnya berat saat menyadari jarum jam yang kini telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dalam hati, pria itu kembali menyalahkan dirinya sendiri karena telah membuat putri semata wayangnya menunggu hingga larut seperti ini.

Lauren Hanna Park, anak semata wayang hasil pernikahannya terdahulu. Seorang gadis kecil yang menjadi tujuan utamanya saat ini bekerja membanting tulang. Seorang malaikat kecil yang memberikan warna di kehidupannya setelah duka mendalam yang ia alami setelah kehilangan seorang wanita yang ia anggap sebagai istri.

“Appa, saranghae.” Kata gadis itu pelan dalam gendongan Jungsoo.

Senyumnya kembali mengembang saat mendengar kalimat tersebut keluar dari bibir mungil putri ciliknya. Mungkin di sekolahnya ia telah diajari mengatakan kalimat itu oleh para staff pengajarnya, dan kini ketika gadis itu kembali mengucapkan kalimat cinta itu untuknya, hatinya seolah kembali terketuk. Betapa tulusnya seorang gadis kecil berusia enam tahun ini bisa mengatakan kalimat tersebut untuk seorang ayah yang bahkan sangat jarang mengurusi segala hal yang ia perlukan.

Jungsoo menunduk, dan mencoba menolehkan pandangannya menatap Lauren yang tengah berada dalam gendongannya dan mkenemukan gadis itu telah menyandarkan kepalanya tepat di dada bidang miliknya. Kedua matanya tertutu, dan perlahan ia dapat merasakan hembusan nafas gadis itu yang seirama. Lauren telah tertidur dalam gendongannya.

Pria itu tersenyum, kemudian menghentikan langkahnya sejenak, mencoba memposisikan tubuh Lauren agar lebih nyaman berada dalam gendongannya dan kemudian setelah itu ia kembali melangkah menuju kamar istirahat milik Lauren. Dibukanya perlahan pintu kamar anak gadisnya itu dengan hati-hati, berusaha agar tak menimbulkan suara gaduh sedikitpun yang dapat membuat buah hatinya terbangun.

Perlahan ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan dengan tembok bercat warna merah muda itu, warna kesukaan setiap anak perempuan berumuran enam tahun seperti Lauren ini. Dengan hati-hati, ia menurunkan gadis kecil itu ke atas kasur yang dilapisi sprai bergambarkan barbie tersebut. Tangannya kembali mengusap-usap puncak kepala Lauren dan menyisirkan jari jemarinya ke rambut halus gadis itu. Mencoba memberikan kenyamanan pada gadis itu agar kembali larut dalam tidurnya.

Beberapa saat pandangan matanya mulai berputar ke sekeliling kamar Lauren dan berhenti pada setumpuk buku dongeng yang dimiliki oleh putrinya. Buku-buku cerita yang kebanyakan bertema barbie yang sangat digemari oleh putrinya ini. Mungkin sudah ratusan kali pria itu membacakan setiap judul buku tersebut untuk Lauren setiap malam sebelum gadis itu tertidur.

Kecuali hari ini, ia benar-benar merasakan bersalah pada putri kecilnya karena tidak melakukan jadwal yang setiap hari ia kerjakan, hingga membuat gadis itu mengunggunya hingga larut malam seperti ini. Ketika biasanya ia harus pulang pukul delapan malam dan membacakan cerita dongeng barbie untuk Lauren, tapi hari ini untuk sebuah alasan perjodohan yang diminta oleh orang tuanya ia harus menitipkan Lauren sedikit lebih lama pada Baby Sitternya di rumah.

**

“Shireo.”

Su Min kembali berteriak keras kepada kedua orang tuanya yang baru saja sampai di rumah beberapa saat yang lalu. Bertunangan? Apakah mereka berdua sudah gila? Batin gadis itu.

Bahkan meskipun dia adalah orang yang sangat kaya, Su Min tidak akan mau menikah dengan seorang duda beranak satu seperti itu. Mimpinya adalah menikah dengan seseorang yang ia cintai dan benar-benar pilihannya, bukan orang baru yang sama sekali tidak ia kenal seperti lelaki itu.

“Apa kalian sudah tau dia adalah seorang duda beranak satu?”

“Apakah kalian juga sudah mencari tahu mengapa dia bisa menjadi duda? Apakah dia bercerai atau istrinya meninggal dunia? Apakah kalian sudah mencari tahu mengapa istrinya meninggal?” rentetan pertanyaan itu begitu saja ia ucapkan dengan emosi.

“Baek Su Min, Appa tidak mau berdebat lagi.” Jawab Baek Ah Young, ayahnya, dengan tegas dan cukup membuat Su Min seketika itu juga diam tak menjawab sepatah katapun, “Lusa, Appa akan melakukan kunjungan bisnis ke Amsterdam.” Lanjut ayahnya dan segera pergi ke kamarnya, meninggalkan Su Min dan juga ibunya yang masih terduduk di ruang tamu.

Apapun yang telah dikatakan ayahnya adalah sebuah perintah, dan akan terasa sangat mustahil jika ayahnya tersebut mau membatalkan apa yang telah ia rencanakan, terlebih lagi jika ini sudah menyangkut masalah perusahaan dan bisnis.

“Su Min-ah..” panggil sang ibu pelan.

Namun Su Min masih diam, tak mau menanggapi sedikitpun panggilan sang Ibu. Ia lelah, bahkan sangat lelah karena seluruh tenanganya telah terkuran habis untuk menolak rencana gila tersebut. “Berapa hari kita di Amsterdam?” kata gadis itu kemudian.

Seperti biasanya, jika ayahnya ada kegiatan keluar negeri maka ia dan Ibunya akan ikut bersama. Mereka masih konsisten dengan tidak akan membiarkan gadis itu sendirian di rumah, dan mungkin untuk saat ini hal itu dapat mengirangi sedikit pikiran penatnya akibat perjodohan ini.

Setidaknya ia bisa berjalan-jalan sejenak di luar negeri dan mulai melakukan hobby berbelanjanya di negara tersebut daripada harus kembali ke kampus dan menyibukkan diri dengan segala macam tugas perkuliahan seperti biasanya.

“Satu minggu.” Jawab Ibunya.

Gadis itu segera berdiri dan meraih kunci mobilnya kemudian setelah mendengar jawaban dari ibunya. Seperti biasanya jika akan pergi keluar negeri seperti ini ia akan berpamitan dengan seluruh teman-temannya dan bukankah kebetulan malam ini mereka sedang berkumpul di Club Heaven.

“Berhenti dan segera masuk ke kamarmu.” Suara ayahnya kembali menginterupsi Su Min yang baru saja akan melangkahkan kakinya keluar rumah untuk pergi ke Club menemui teman-temannya.

“Appa bilang segera masuk ke kamarmu.” Teriak ayahnya kembali.

Gadis itu menghembuskan nafasnya berat dan melemparkan dengan kasar kunci mobilnya ke lsalah satu vas bunga yang berjejer rapi di samping pintu masuk rumahnya sehingga menimbulkan suara pecahan kaca yang berisik. Di hentakkannya kemudian kedua heels yang ia pakai ke lantai sambil berjalan cepat menuju kamarnya saat itu juga.

Sialan. Mungkin jika lelaki itu tadi tak masuk dan menyetir mobilnya, saat ini ia sudah bersenang-senang menari di lantai dansa club heaven bersama teman-temannya. Tapi bodohnya mengapa tadi ia hanya membiarkan saja lelaki itu membawanya kembali ke rumah, padahal hal-hal semacam ini sudah ia duga akan terjadi. Bukankah akan lebih baik jika malam ini ia tidak pulang sekalian, dan berpesta hingga pagi?

“Tidakkah kau terlalu keras pada Su Min hari ini?” tanya Jung Ah Reum, ibu Su Min, kepada suaminya saat memasuki kamar mereka.

Tapi ayah Su Min hanya diam, jauh di lubuk dadanya mungkin ia juga merasakan sakit ketika harus bertindak sekeras itu pada anak semata wayangnya. Bahkan selama ini ia tak pernah membuat gadis itu marah hingga seperti ini, tapi entah mengapa kali ini ia membiarkan dirinya seperti itu.

“Biarkan saja. Terkadang kita memang harus mendidik gadis itu dengan keras.” Jawab pria itu kemudian sambil melongarkan kerah baju yang ia kenakan, “Hubungi pengacara Kim segera, minta dia untuk menyelidiki kembali tentang Park Jungsoo.” Lanjutnya.

Ibu Su Min segera memalingkan wajahnya kemudian, menatap tak percaya pada apa yang baru saja dikatakan suaminya itu. Sedetik kemudian ia tersenyum, menyadari bahwa meskipun suaminya baru saja bertingkah terlalu keras pada Su Min, tapi toh nyatanya saat ini pria itu menuruti apa yang di katakan anak gadisnya untuk menyelidikki kembali tentang Park Jungsoo.

Rasa sayang mereka kepada Su Min tidak akan berubah, terlepas dari apakah itu bisnis yang mereka jalani tetapi untuk masa depan Su Min mereka akan memilihkan seseorang yang benar-benar pantas untuk gadis itu.

**

Next Day.

Su Min segera melangkahkan kakinya dengan cepat saat kelas terakhirnya hari ini baru saja berakhir. Gadis itu berjalan dengan pasti menuju sebuah studio musik yang terletak diantara gedung-gedung ukm lainnya yang berjajar di dalam kampus. Entah sudah berapa orang yang di tabraknya saat berjalan menuju studio musik kala itu, dan justru gadis itu tak menghentikan langkahnya sejenak untuk menolong orang yang ia tabrak ataupun mengatakan maaf.

Studio musik milik Junhyung adalah tempat tujuannya selama ini ketika selesai mengikuti perkuliahan setiap hari. Disana adalah tempat berkumpulnya ketika sedang berada di kampus, dan lain cerita jika sudah di luar kampus maka tempat berkumpul mereka akan berubah di club-club besar yang ada di kawasan gangnam seperti Circle Lounge, Eden, Double Eight, dan juga yang paling sering adalah Heaven.

“Pabo-ya..”

Samar-samar dari luar studio tersebut Su Min dapat mendengar beberapa orang saling berbicara dan kemudian tertawa. Pasti mereka sedang membicarakan pesta yang tak sempat ia hadiri semalam, batin gadis itu kemudian.

Dengan pasti gadis itu mulai memegang gagang pintu studio tersebut dan mulai membukanya perlahan. Sesaat ia bisa menemukan bayangan Dujun, kekasihnya yang sedang duduk di salah satu sofa yang terpasang di studio tersebut.

“Chagi-ya.” Panggilnya kemudian sambil menutup pintu.

Beberapa saat setelahnya, seluruh pasang mata yang ada dalam ruangan tersebut mulai menatapnya seolah heran dengan kedatangan Su Min. Semalam gadis itu bahkan tak menampakkan batang hidungnya saat pesta jadi banyak yang mengira bahwa gadis itu sedang mengikuti perjalanan bisnis ayahnya ke luar negeri, tetapi nyatanya hari ini gadis itu berada di ruangan ini.

“Yahh.. semalam kenapa kau tidak datang?” tanya pria yang tadi dipanggil Su Min tersebut. Sesaat pria itu segera berdiri dari duduknya dan melebarkan kedua tangannya, memberikan akses pada Su Min untuk memeluknya saat itu juga.

Dengan cepat gadis itu kemudian menyambut pelukan pria tersebut, menenggelamkan dirinya dalam dekapan pria bernama lengkap Yoon Dujun itu, dan mulai menghirup aroma khas milik pria itu yang sangat di sukainya.

“Mianhae, ada beberapa masalah semalam.”

Dujun mulai mengelus perlahan punggung Su Min dengan telapak tangannya, memberikan sedikit kehangatan pada tubuh wanita itu, “Kenapa kau tidak menghubungiku sama sekali?” tanyanya kemudian.

Tapi gadis itu tak menjawabnya, hanya saja ia semakin merapatkan kaitan tangannya yang sedang memeluk tubuh pria itu. Sedikit di gerakkannya kemudian kepalanya, mengintip siapa saja saat ini yang berada di dalam ruangan tersebut. Gikwang dan Jongin sedang asik berlatih alat musik yang mereka kuasai. Dan di kubu wanita ada Hyunah dan juga Minah, sedang asyik melihat perlengkapan make up yang di miliki satu sama lain. Sedangkan si pemilik studio ini, Junhyung justru terlihat duduk menyendiri di salah satu pojok ruangan.

Gadis itu melepaskan pelukannya pada Dujun dan memperhatikan dengan teliti sosok Junhyung yang sedang menyendiri. Tak lama kemudian tawanya pecah setelah mendapati beberapa bagian wajah pria itu sudah babak belur, seperti orang yang baru saja di keroyok.

“Yak, oppa, waeyo?” tanyanya pada Junhyung.

Tapi pria yang ditanyai justru memalingkan wajahnya, dan dengan segera menutupi wajahnya yang membiru itu. Sedangkan teman-temannya yang lain yang berada di ruangan tersebut kembali tertawa melihat tingkah yang di perlihatkan Junhyung.

“Semalam dia mendapatkan Jackpot.” Kata Dujun sambil mengaitkan kedua tangannya di pinggang Su Min, memeluk gadis itu dari belakang.

“Jackpot?”

“Ne, tinggal selangkah lagi ia bahkan sudah berhasil memenangkan taruhan dengan Heechul-oppa, tapi tiba-tiba jackpot itu datang.” Kali ini giliran Minah yang menjelaskan padanya.

Su Min mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali, paham apa yang dimaksud teman-temannya saat itu juga. Taruhan dan Heechul-oppa? Apa lagi, dua clue tersebut sudah cukup mampu menjelaskan seluruhnya, bahwa Junhyung yang selama ini selalu berusaha menolak tawaran yang diberikan oleh Heechul-oppa pada akhirnya benar-benar meladeni tawaran tersebut, dan jackpot yang di dapatkannya mungkin saja sebuah pukulan keras dari gadis yang menjadi incaran mereka.

Sesaat gadis itu kemudian merasakan tangannya ditarik oleh Dujun, di tolehkannya wajahnya menatap pria itu dan ia mulai mengikuti langkah Dujun yang membawanya menuju ruangan kecil yang sedikit terpisah dari teman-temannya yang lain saat ini berkumpul.

“Siapa wanita yang dijadikan target Junhyung?” tanya gadis itu saat mereka sampai di ruangan tersebut.

Dujun menutup pintu ruangan tersebut sejenak dan mulai berjalan mendekat pada Su Min, segera mendekap gadis itu kembali dalam pelukannya, “Molla, mahasiswa dari mayoring bisnis,” jawabnya kemudian, “Shin Hyeonmi? Ah, entahlah.” Lanjut pria itu. (ingat ff sebelum ini >> I Love You Because an Error)

Su Min mulai melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Dujun, membalas pelukan pria itu padanya. Rasa nyaman itu seketika mulai memenuhinya, penat yang ia rasakan semalam selah luluh begitu saja ketika tubuh mereka kini mulai bersentuhan satu sama lain dalam sebuah pelukan seperti ini.

Untuk saat ini, iya benar untuk saat ini, pria inilah yang diinginkannya bukan lelaki bernama Park Jungsoo itu. Tapi sekali lagi gadis itu tak dapat memungkiri bahwa memang saat ini ia hanya menginginkan Dujun, tetapi suatu hari nanti ia bahkan tak yakin akankah ia bisa tetap bersama pria ini, seperti ketidakyakinannya dulu ketika masih berhubungan dengan mantan kekasihnya.

Bukankah dulu dia juga menginginkan untuk bersama dengan mereka yang statusnya kini telah menjadi mantan kekasihnya? Dan kini perasaannya sama seperti itu, ia menginginkan bersama lelaki ini.

“Besok, aku akan pergi ke Amsterdam.”

“Besok?”

Su Min hanya menjawabnya dengan anggukan dan semakin mempererat laitan tangannya di pinggang pria itu. Rasanya ia tidak ingin berpisah, tapi sesaat lagi ia harus segera kembali ke rumah untuk mempersiapkan barang-barang yang harus ia bawa besok.

Perlahan Dujun mulai merenggangkan pelukan mereka. Ia melepaskan kaitan tangannya di punggung Su Min dan beralih meraih dagu gadis itu. Di arahkannya wajah Su Min menatap padanya dan mulai mendekatkan bibir mereka kemudian.

**

Next Day

“MWOYA???” Su Min berteriak keras pada kedua orang tuanya yang saat itu tengah duduk santai di kursi tunggu Incheon Airport.

“Sssstt.. pelankan suaramu Su Min-ah!” ucap ibunya kemudian.

Tapi gadis itu sama sekali tak memperdulikan perintah ibunya sama sekali, ia lebih membutuhkan penjelasan kedua orang tuanya tentang apa yang terjadi saat ini. Di tangan sang ibu saat ini hanya terdapat dua buah tiket penerbangan menuju Amsterdam, itu berarti satu tiket atas nama ayahnya dan satu lagi atas nama ibunya. Lalu dimana tiket miliknya?

Apakah mereka berniat untuk meninggalkan Su Min di Korea seorang diri?

“Geurae, kalau begitu berikan kunci rumah dan juga kunci mobilku.” Kata gadis itu kemudian sambil menengadahkan telapak tangan kanannya kepada sang ibunda.

Ibunya tersenyum dan sedikit menolehkan pandangannya kepada ayahnya yang duduk di samping sedang asyik berkutat dengan koran yang ia baca. Digerakkannya perlahan sikunya memanggil sang suami untuk memberikan penjelasan selanjutnya pada Su Min yang tengah berdiri di hadapan mereka saat ini.

“Tidak ada mobil dan juga kunci rumah.” Jawab ayahnya kemudian sambil melipat kembali koran yang ia baca, kemudian pria itu berdiri mensejajarkan dirinya dengan Su Min, “Kau tidak memerlukan benda itu.” Lanjutnya.

Su Min diam sesaat mencoba berpikir lebih realistis pada ucapan ayahnya. Bagaimana mungkin ia tidak memerlukan kunci rumah? Mau tinggal dimana dia selama kepergian kedua orang tuanya selama satu minggu itu nanti? Ke rumah Baekhyun, saudaranya yang berasal dari keluarga ibunya? Tidak mungkin bahkan saat ini Baekhyun dan keluarganya sudah pindah dan menetap di Jepang mengikuti keluarga besarnya yang lain yang tinggal disana.

Lalu mobil, bagaimana bisa ayahnya meninggalkannya seorang diri disini tanpa mobil?

“Ah, kau sudah datang.”

Su Min menolehkan wajahnya, menatap sosok yang baru saja disapa oleh ayahnya. Lelaki itu lagi, Park Jungsoo, apakah dia berencana untuk mencari muka lagi di depan kedua orang tuanya saat mereka akan pergi melakukan perjalanan bisnis? Dasar penjilat.

“Kau akan tinggal di rumah Jungsoo selama kami pergi.” Kata Tuan Baek kepada anaknya.

Kau akan tinggal di rumah Jungsoo?

Kau akan tinggal di rumah Jungsoo?

Su Min memukul pipinya dengan keras kemudian dan mendapati rasa sakit yang luar biasa ketika dia menamparkan dirinya itu sendiri. Apa ini? Bukankah ini mimpi? Tapi mengapa rasanya sakit sekali saat aku memukul tubuhku sendiri?

Apakah orang tuanya sudah gila saat ini? Bagaimana bisa mereka berpikir untuk meninggalkanku di rumah seorang duda beranak satu ini?

“Su Min-ah?” panggil sang Ibu kemudian sambil menepuk pundak Su Min beberapa kali.

“Shireo” tolak Su Min kemudian, “Berikan aku uang, untuk membeli tiket ke Jepang, atau uang untuk menyewa hotel jika memang kalian tidak memberikan kunci rumah padaku.” Ucap gadis itu.

Ada apa ini sebenarnya? Mengapa kedua orangtuanya saat ini sangat berapi-api menjodohkan dirinya dengan pria ini. Tidakkah mereka mempertimbangkan penolakan yang ia lontarkan di malam setelah mereka makan malam bersama waktu itu?

Dan lagi, mungkinkah kedua orangtuanya memang sengaja melakukan hal ini? Mereka menjebak Su Min untuk ikut memasukkan barang-barang yang ia butuhkan ke dalam koper, karena jika Su Min tau ini dari awal bisa saja gadis itu takkan mau memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.

“Apa yang kau bicarakan? Tidak ada uang yang kau minta itu,” jawab ayahnya, “Dan lagi, kartu kreditmu akan appa tarik selama kami pergi, bulan ini pengeluaranmu sudah melebihi batas.” Lanjut pria itu lagi.

Seketika itu juga Su Min terduduk lemas, rasanya tulang-tulang kakinya saat ini tak dapat lagi menopang tubuhnya. Tinggal di rumah pria itu, tanpa mobil dan juga tanpa kartu kredit, akankah satu minggu ke depan ini hidupnya akan berubah menjadi neraka?

*TBC* >> Part 2, Part 3, Part 4

Note:

Helloo… anyyeong,

Kali ini saya balik nggak bawa cast Hyeon-Hyuk dulu yaa, hahaha

Udah pada tau kan kalo The Best Leader kita yang satu ini udah balik, nah untuk itu saya sedikit menghentikan produksi ff Hyeon-Hyuk dulu dan berlih sebentar buat ngerayain comebacknya Ahjushi satu ini dengan bikin ff series dengan karakter utama dia.

How?

Saya sendiri nggak begitu yakin dengan ff ini, sama seperti ff sebelum-sebelumnya, saya nggak pernah PeDe buat bilang ini ff bagus ato enggak, yang jelas selama proses bikin ini saya bener-bener berusaha keras buat ngasih yang terbaik buat reader, jadi untuk itu saya sangat mengharapkan masukan kalian semua tentang ff ini.

Dan lagi, mungkin ada beberapa yang belum bisa menggambarkan dengan jelas bagaimana sosok Baek Su Min yang saya pasang menjadi karakter utama cewek di ff ini jadi buat bonusnya sibawah ini nanti saya bakal kasih beberapa foto ulzzang Baek Su Min buat memperdalam karakternya dan juga penggambaran singkat dari beberapa karakter yang saya bikin di ff ini.

Cekidot !! Di tunggu komentar dan masukannya !!

Baek Su Min

baek su min

Nama karakter ini sengaja saya ambil sesuai dengan nama asli Ulzzang yang saya dapuk buat jadi visualnya. Baek Su Min, seorang putri konglomerat dari perusahaan besar Korea yang sejak kecil telah dimanjakan dengan uang sehingga ia hidup dengan sedikit besar kesombongan. Di story ini dia akan dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria yang sangat berbeda jauh dengannya. Seperti apakah usaha yang dilakukan Su Min untuk menggagalkan usaha perjodohan ini?

Park Jungsoo

379904_287298084635959_139370116095424_980107_1430863086_n

Ini nih Duda Keren yang lagi bikin sedikit melupakan kunyuk. Disini nanti dia bakalnya saya bikin punya satu anak cewek, dan bayangin ajak gimana sayangnya leeteuk sama anak kecil, termasuk waktu adegan-adegan dia sama anaknya nanti.

Huwaaa… semangat sendiri waktu mau nulis karakter Leeteuk disini. Sempet bingung awalnya mau bikin dia jadi kayak gimana, terus saya kepikiran buat nyambungin sedikit cerita Hyeon-Hyuk di ff I Love You Because an Error, terus akankah nanti juga bakal muncul Hyeon-Hyuk disini? Molla.

Lauren Hanna Park

lauren hanna lunde

Nama aslinya Lauren Hanna Lunde. Disini dia jadi anak semata wayang Leeteuk dari pernikahannya terdahulu. Nah kenapa saya katakan pernikahan terdahulu? *ups* cari jawabannya di next part aja. Oh iya tambahan lagi, denger-denger sih Lauren ini anak Hello Babynya MBLAQ loh. Kebetulan saya nggak nonton Hello Baby sih jadi nggak bisa cerita lebih banyak tentang si Lauren ini.

Yoon Dujun

yoon dujun

Taraaaa… ini dia pacarnya Su Min. Seperti apa nanti kisahnya Dujun ini sama Su Min setelah dia tau hubungan Su Min sama Jungsoo? Tungguin yaa…

Park Chanyeol

park chanyeol

Hmm.. berhubung part selanjutnya belum saya bikin jadi saya sebenernya agak-agak ragu mau masukin nama ini apa enggak. Takutnya nanti di tengah jalan proses pembuatan ff ini saya berubah pikiran mengganti karakter si Chanyeol ini, atau yang lebih parah malah bisa jadi nanti saya batal masukin dia kesini. Tapi tungguin ajadeh apa yang terjadi nanti. Hehe.

21 thoughts on “MATCHMAKING [Part 1]

  1. Kyaaaaaa aq suka aq suka… Baca’y udh excited bgt soal’y yg jadi cast utama’y uri nampyeon #plaaaak… Ada beberapa kata yg menjadi typo tp tertu2pin ma cerita’y yg aq suka pisan.. Duda anak 1 gak masalah #plaaak Lauren yeoppo kyk mirip ma ahjussi tua nie :D… 1 minggu d’rmh Leeteuk, kerasan’y gak ea Sun mi??? Moga Lauren bisa terima Sun mi… Dan tuch istri’y ahjussi k’mana meninggal kah atw meninggalkan????

  2. lee teuk sabar banget ngadepin su min…
    penasaran sama lee teuk dia jdi duda gegara cerai ato di tinggal mati istri…. >.<
    taktik appanya sumin boleh jg, su min tinggal sama lee teuk trus tar tumbuh benih2 cinta deh
    aaa lanjuuuttt 🙂

  3. Haiii minn setelah liat liat di library ehhh apanii matchmaking? Karna penasaran ke klik dehh wkwkwk
    awalnya bingung minn ini sekuel dari cerita yang mana soalnya di library matchmaking ini di sekuel 😅 dan lanjut dehhh bacaa sampe bawah dan oh mai gottt… leeteuk duda beranak satu? 😲 kejut kejut tapi kalo dipikir iya sihh cucok juga wkwkwkwk
    ampun juga dehhh su min manja gimana gidu yah penasaran cemana hubungan su min sama leeteuk 😎 ohh iya minn aye bingung juga pas ada sebutin ff judulnya i love you minn, belom bacaa 😢 entar dehyaa minn hihihi baca ini duluu.
    lanjut part 2 👻👻👻 *bikinrusuhlagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s