Fanfiction

Sweet Candy [Part 4]

sweet candy

Part 1  | Part 2 | Part 3

By: Shin Hyeonmi

Lee Donghae | Kim Ryeon | Lee Joon

***

The story idea is not mine, I just made the fanfiction version from stories I’ve ever read a few years ago

**

“Ryeon-ah, aku sembuh. Kau lihat, aku bukan pengguna lagi, aku bersih!”

Ryeon masih terkejut melihat Lee Joon yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Pria itu terlihat seperti Dongwoon, yang sehat dan memiliki semangat hidup. Dia benar-benar telah berubah. Tak ada lagi mata cekung, tubuh kurus, atau bahkan luka-luka kecil bekas suntikan di lipatan sikunya. Air mata Ryeon menetes perlahan, inilah Lee Joon yang ia inginkan, Lee Joon yang ia sayangi, dan Lee Joon yang saat ini ia rindukan setengah mati.

“Kau, kau benar-benar sudah sembuh? Apa kau mau menuruti perkataanku lagi untuk menjalani rehab?” tanya gadis itu tak percaya.

Pria itu mengangguk riang, “Ne, aku sembuh untukmu, Kim Ryeon.”

Saat itu juga Ryeon merasakan seperti terbang karena terlalu senang melihat sosok Joon, “Yaksok! Jangan pernah kembali menggunakan barang-barang itu lagi!” kata gadis itu sambil memperlihatkan jari kelingkingnya pada Joon.

Lee Joon mengamit kelingking Ryeon dengan jari kelingkingnya, lalu tersenyum puas melihat sumrigah di bibir Ryeon, “Yaksok, aku tidak akan pernah melakukannya, never again,”

“Berjanjilah, bahwa kau juga tidak akan pernah meninggalkanku lagi?” tanya Ryeon senang. Pada akhirnya ia bisa kembali lagi dengan Lee Joon yang telah berubah menjadi sosok yang benar-benar diinginkan oleh keluarganya. Itu artinya penghalang yang selama ini mereka hadapi telah pergi, sebegitu senangnya hati Ryeon.

Namun, seketika itu juga gadis itu melemas saat melihat Joon yang menggelengkan kepalanya. “Mian, aku tak bisa. Aku tak bisa bersamamu lagi, Kim Ryeon. Aku harus pergi… mianhae.”

Pria itu berbalik dan melangkahkan kakinya menjauh. Saat itu juga semua yang ada di hadapan Ryeon berubah menjadi lorong hitam yang panjang yang entah dimana ujungnya berada.

“Joon-ah, wae?” tanya Ryeon bingung.

“Aku mencintaimu Kim Ryeon,” satu kata terakhir yang diucapkan Lee Joon sebelum tubuhnya benar-benar hilang ditelan lorong hitam tersebut.

Sementara Ryeon merasa dirinya saat itu juga seperti dilempar ke sebuah jurang yang sangat dalam, namun kemudian ia jatuh diatas ranjang tidurnya.

Mimpi.

Kim Ryeon mengucek kedua matanya, dan melihat jam dinding yang masih pukul dua dini hari. Dadanya terasa sesak akibat mimpi yang ia alami tadi. Seharusnya ia sadar, Lee Joon tidak akan mungkin berubah jika keluarganya tetap mengacuhkannya seperti ini.

Drrrt… drrttt..

Gadis itu menoleh, menggapai ponselnya yang ia letakkan diatas nakas tepat tidurnya. Beberapa saat gadis terkejut menatap nama yang muncul dalam incoming call di layar ponselnya.

 

Lee Jiwon calling..

 

Untuk apa adik Lee Joon meneleponnya sepagi ini?

Yoboseyo?

“Ne, waeyo?”

Eonni, Joon-oppa, dia..

Perasaan Ryeon seketika itu berubah menjadi tak tenang. Dari suara Jiwon yang bergetar, tiba-tiba saja Ryeon berpikir bahwa sesuatu yang buruk kini tengah terjadi pada Lee Joon. Terlebih lagi saat ini masih sangat pagi untuk gadis itu meneleponnya, mungkinkah..

“Wae? waeyo?” tanya Ryeon ketakutan. Dia benar-benar tak bisa membayangkan sesuatu yang buruk kini tengah terjadi.

**

Ryeon terduduk lemah di hadapan peti mati Joon yang baru saja ditutup. Tatapannya kosong ke depan, begitupula pikirannya yang saat ini juga kosong mengenang kepergian Lee Joon. Sepasang kacamata hitam yang tadinya ia kenakan, kini perlahan dia lepas, hingga terlihat kedua matanya yang membengkak. Gadis itu tak menangis saat ini karena air matanya bahkan telah terkuras habis sejak mendengar berita kepergian pria itu.

Lee Joon meninggal setelah beberapa jam jenazahnya ditemukan di kamar. itupun karena Jiwon yang khawatir karena sejak kembali ke rumah dengan emosi yang tak karuan, pria itu segera masuk ke dalam kamar dan mengunci dirinya seorang diri, pada akhirnya kemudian Jiwon menelepon Dongwoon dan tengah malam itu juga pria itu datang. Dongwoon datang, lalu kemudian mendobrak paksa pintu kamar Lee Joon karena temannya itu kunjung menjawab sahutannya meskipun telah berkali-kali dipanggil. Ketika pintu berhasil di dobrak, mereka mendapati Joon yang tergeletak diatas ranjang dengan tangan dan kepala yang menjuntai kebawah. Disampingnya, ada cukup banyak sekali plastik kosong bekas wadah sabu-sabu, juga bong dan jarum suntik. Jiwon yang terkejut segera meminta pertolongan dengan menelepon Ryeon, sementara Dongwoon yang mengurus semuanya, mulai dari menelepon ambulans dan polisi.

Polisi datang kurang dari sepuuh menit kemudian, disusuldengan mabulans yang bunyi sirinenya membuat seluruh tetangga yang berada di lingkungan sekitar rumahnya terbangun. Dari hasil autopsi, Lee Joon diketahui mengalami overdosis zat adiktif atau narkoba. Dongwoon yang mendengar hadil autopsi tersebut hanya bisa menghela napas. Ia tak menyangka jika sahabatnya akan mengakhiri hidupnya dengan cara seperti ini. tapi pria itu juga sadar, jika semua ini adalah kenyataan yang tak dapat dirubah.

Selama satu hari jenazah Lee Joon disemayamkan, dan sepanjang hari eomma-nya terus menjerit memanggil-manggil putranya yang telah ia abaikan selama hidup itu. Sementara ayah Lee Joon, tampak begitu terpukul melihat akhir tragis dari putra yang telah ia sia-siakan tersebut.

Wae? Waeyo? Batin Ryeon miris. Sejak dulu ia tak pernah membayangkan hari seperti ini akan datang dengan begitu cepat. Hari dimana ia kembali kehilangan orang yang ia sayangi setelah kepergian eommanya. Hari ini, ia benar-benar kehilangan Joon untuk selamanya. Pria itu tak akan pernah kembali lagi pada Ryeon, memohon-mohon padanya untuk kembali dengan alasan masih menyayangi Ryeon.

Seseorang menepuk bahu Ryeon dari belakang, dan gadis itu menoleh. Jongwoon, kakaknya bediri tepat di belakang Ryeon dengan tatapan iba.

“Kita pulang sekarang,” ajak Jongwoon.

Ryeon mengangguk lemah. Saat ini ayahnya masih berada di luar negeri, sehingga tidak bisa menemani Ryeon ke pemakaman Lee Joon. Meskipun begitu tadi dia sempat menelepon Ryeon dan mengatakan pada gadis itu untuk tetap tegar menerima kenyataan yang ada. Sekeras apapun ayahnya pada Joon selama ini, akhirnya pria itu juga meminta maaf yang sebesar-besarnya pada keluarga Joon karena pernah mengacuhkan dan bahkan berbuat kasar pada Joon semasa hidupnya.

Jongwoon mengamit tangan Ryeon dengan lembut, membimbing adiknya untuk masuk ke dalam mobil yang ia bawa saat itu juga. Lalu mulai menjalankan mobilnya ke kediamannya. Dalam perjalanan, air mata Ryeon yang sempat ia pikir telah habis kini mulai menetes kembali.

“Aku ingin mati,”

“Ssst, Ryeon-ah, jangan berkata seperti itu,” bentak Jongwoon.

“Tapi oppa akulah yang membuatnya meninggal. Seandainya aku menerimanya kembali, dan seandainya saja aku tidak berbohong dengan mengatakan Donghae adalah kekasihku..”

Jongwoon masih fokus mengemudikan mobilnya, namun tetap mendengarkan kalimat Ryeon, “Apa maksudmu? Donghae? Siapa Donghae?” tanyanya.

Ryeon mengusap tangisnya kembali, lalu menceritakan semuanya pada Jongwoon. Mulai dari siapa sosok Lee Donghae yang beberapa saat terakhir ini cukup sering mengacaukan hatinya, kejadian saat Joon memintanya untuk kembali, penolakannya pada Joon, sampai kejadian rabu malam, saat bersama dengan Donghae dan bertemu dengan Joon.

“Jadi menurutmu, kaulah penyebab Lee Joon meninggal?”

Ryeon mengangguk, “Aku selalu memaksanya untuk berhenti mengkonsumsi obat-obatan itu. Dia tak mungkin mengkonsumsi sabu-sabu sebanyak itu dalam kondisi normal… tapi dia melakukannya, dia pasti tertekan, dan itu karena…”

Jongwoon mendengus sebelum sempat Ryeon menyelesaikan ucapannya, “Menuru oppa, dalam kondisi normal dia tak akan pernah mencicipi obat itu, sama sekali,”

Gadis itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat, tak setuju dengan kalimat yang dikatakan oleh kakaknya, “Tetap saja, semua ini karena aku, Kim Ryeon telah menyakitinya.”

Mendengar hal itu, seketika itu juga Jongwoon mengerem mobilnya tiba-tiba. Ia membating stir mobilnya dengan keras, menepikannya ke pinggir jalan. Untuk saja saat itu jalanan masih cukup sepi sehingga bagaimanapun gerakan mobil Jongwoon tidak membahayakan pengendara lainnya.

“Kim Ryeon, ini bukan salahmu.” Jongwoon menghadapkan tubuhnya ke samping, menatap tajam Ryeon.

“Ani oppa, aku salah. Aku yang membuat Lee Joon mening..”

PLAAK.

Sebuah tamparan keras saat itu tiba-tiba menghentikan Ryeon yang masih tetap keras dengan pemikirannya. Bukan tamparan yang dialamatkan padanya oleh Kim Jongwoon, akan tetapi sebuah tamparan yang sengaja diarahkan Jongwoon pada dirinya sendiri. Ryeon terdiam saat itu juga melihat kakaknya yang menyakiti dirinya sendiri seperti itu.

“Haruskah aku menampar pipiku lagi untuk membuatmu diam?” kata Jongwoon keras, “Wae? Waeyo? Kenapa kau harus menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang terjadi pada Joon? Sama seperti apa yang baru saja kulakukan, seharusnya aku menampar dirimu, tapi aku memilih untuk menyakiti diriku sendiri. Begitupula dengan apa yang dipilih oleh Lee Joon, dia memilih untuk menggunakan seluruh obat-obatan berbahaya itu yang pada akhirnya telah merampas nyawanya, semua itu pilihan yang dia buat,”

Ryeon masih tersedu-sedu, sementara Jongwoon sudah kembali menatap lurus ke depan, sambil meyandarkan punggungnya pada kursi kemudi. Jongwoon telah selesai memuntahkan seluruh kekesalannya dan sekarang sedang berusaha mengatur nafasnya yang masih tersengal.

“Mian, oppa tidak bermaksud berbicara kasar padamu,” kata Jongwoon sambil menepuk pundak Ryeon.

“Tapi tidak seharusnya aku berpura-pura memiliki kekasih kan? Apa yang kulakukan telah benar-benar menyakiti Joon, dan..”

“STOP,” potong Jongwoon lagi, “Kutegaskan lagi, semua ini bukan salahmu. Dan jika memang dia merasakan patah hati, itu adalah kesalahannya sendiri, dia yang memilih hidup seperti itu. Baiklah, kau benar, kau yang telah membuatnya patah hati, tapi ingat penyebab ia mengkonsumsi obat-obatan itu bukanlah dirimu,”

Gadis itu kembali menelan ludahnya dengan susah payah. Kakaknya memang bisa berubah menjadi sangat galak jika seperti ini, sama persis seperti ayahnya. Dan Ryeon tak terkejut dengan hal ini, karena memang kebanyakan sifat Jongwoon adalah warisan dari sang ayah. Ryeon juga mulai dapat menerima kata-kata Jongwoon, dia benar, ia mungkin memang membuat Joon patah hati, tapi jauh sebelumnya bukan dia yang membuat lelaki itu mengkonsumsi obat-obatan.

“Aku tau ada perasaan bersalah dalam dirimu, tapi apakah dengan menyalahkan dirimu sendiri akan membuat dia kembali?”

Lagi, Jongwoon memegang bahu Ryeon, berusaha membuat gadis itu memiliki keberanian untuk menatapnya.

“Ne..” kata Ryeon dengan bahu yang gemetar karena ia berusaha menghentikan tangisnya.

“Jangan menyalahkan dirimu lagi. Seperti inilah jalannya, dan kau, Kim Ryeon tidak perlu hidup dalam perasaan bersalah,”

Ryeon mengangguk lagi dan teringat sesuatu, “Sekarang aku tahu, apa arti mimpiku malam itu,”

“Mimpi?”

“Ne, sebelum Jiwon menelepon untuk memberitahukan tentang keadaan kakaknya, aku bertemu dengan Joon dalam mimpi. Dia datang dengan kondisi yang benar-benar selama ini kita harapkan, tapi saat kuminta dia berjanji untuk tak meninggalkanku dia hanya meminta maaf, lalu kemudian tiba-tiba dia menghilang. Mungkin, saat itu ia hanya ingin berpamitan, dan minta maaf karena dia akan pergi dan tak akan pernah kembali.”

Jongwoon yang masih terkejut seketika itu juga kembali menghempaskan punggungnya ke kursi dan mendesah berat.

“Aku belum percaya jika setelah ini kami tidak akan pernah bertemu kembali..”

Pria itu masih diam, tak tahu lagi harus berkata apa. Dimatanya saat ini, Ryeon hanyalah tubuh yang bernafas, tanpa adanya jiwa di dalamnya. Tak terlihat sedikitpun semangat di dalam dirinya untuk hidup.

“Tabahlah, ini adalah cobaan. Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan diluar batas kemampuannya. Selalu ada rencana di balik semua ini, rencana yang tidak akan pernah kau ketahui,”

Gadis itu masih menatap lurus ke depan, masih ragu akankah ia benar-benar sanggup melalui ini semua. Kematian Lee Joon telah merenggut separuh jiwanya.

Apakah manusia akan bisa bertahan hidup hanya dengan setengah jiwa?

**

Ayah Ryeon memeluk tubuh putrinya dengan protective sesampainya ia di apartemen Jongwoon. Setelah mengetahui kabar meninggalnya Joon, pria itu mengcancel seluruh jadwalnya di luar negeri yang masih tersisa dan kembali ke Korea untuk menemui putrinya.

“Gwenchana, gwenchana.” Ayahnya kembali menepuk punggung Ryeon dengan pelan.

“Appa.. dia.. dia..” kata Ryeon dengan suara tercekat.

“Arra, arraseo.” Pria itu kemudian melepaskan pelukannya pada tubuh Ryeon, dan membimbing tubuh Ryeon untuk duduk di sofa yang terletak di ruang tamu apartemen milik Jongwoon.

Setelah Ryeon duduk di sofa tersebut, pria paruh baya tersebut duduk di hadapan Ryeon sembari menggenggam tangan Ryeon lembut, sementara Ryeon dapat merasakan pipinya yang kembali basah oleh aliran ar mata, “ini berat kan?”

Gadis itu menggangguk dalam tangisnya, “Aku takkan melihatnya lagi,”

“Kau pernah berusaha menyelamatkannya, tidak ada yang perlu di sesali. Anakku telah mencoba sebisa yang dia bisa, tapi Joon yang memilih jalan ini.”

Kalimat yang diucapkan ayahnya sama persis dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya. Mungkikah kalimat yang dikatakan seseorang bisa diwariskan juga, batin Ryeon pahit.

“Kau salah jika berpikir tidak pernah berusaha membantu pria itu. Berapa kali sudah kau memohon padanya untuk menjalani rehabilitasi? Tapi bukankah dia tidak pernah menuruti perkataanmu? Jangan salahkan dirimu, Ryeon-ah. Appa tahu ini berat, dan appa tidak akan mengatakan ‘I’ve told you so’, meskipun cukup sering Appa khawatir Joon akan berakhir seperti ini.”

“Tapi,”

“Ssst..” kali ini telunjuk ayahnya diletakkan tepat di depan bibir Ryeon, membuat gadis itu seketika juga diam, “Ada hal-hal yang memang harus terjadi, agar kita bisa belajar dari hidup ini. Appa tidak pernah mengharapkanmu mengalami hal seperti ini, tapi disinilah kau perlu belajar.”

Ryeon menghapus aliran air matanya perlahan.

“Kehilangan orang yang kita sayangi adalah hal yang berat, seperti appa kehilangan eomma dulu. Tapi setelah itu, appa mulai menghargai hidup, appa sadar selama itu appa jarang memperhatikan anak-anak appa dan menyerahkan perhatian itu pada eomma.”

Mendengar hal itu, saat itu juga Ryeon menarik tubuh ayahnya yang dibalas pelukan oleh ayahnya. Dari situ Ryeon bisa merasakan kasih sayang, perlindungan, dan kehangatan, seketika melingkupinya. Ada rasa aman dan damai saat appa memeluknya dan ia benar-benar mensyukuri hal itu. Itu membuat jiwanya yang remuk serasa kembali direkatkan.

“Appa, kita pulang sekarang,” ajak Ryeon kemudian.

Tak ada alasan lain bagi Ryeon, ia hanya ingin menenangkan dirinya. Dan ketenangan itu sepertinya akan lebih cepat ia dapatkan di rumah daripada di apartemen kakaknya ini, karena tentu saja disini ia harus tinggal bersama dengan sepasang suami istri itu. Sementara di rumahnya, meskipun ada cukup banyak pelayan disana, akan tetapi ia bisa menenangkan dirinya di dalam kamar pribadinya yang berukuran jauh lebih besar daripada kamar tamu yang ia tempati di apartemen kakaknya.

**

One weeks later..

 

“Nona, ada tamu yang mencari anda,” panggil salah satu pelayan sambil mengetuk pintu kamar Ryeon dengan lembut. Ryeon masih tetap terdiam diatas ranjangnya, dantak berekasi sedikitpun.

“Nona Kim, ada tamu untuk anda..”

Pelayan tersebut masih terus mengetuk pintu kamar dan memanggil Ryeon dari luar, tapi tetap saja gadis itu diam. Ia tak peduli dengan apun sekarang, karena Lee Joon telah pergi jadi untuk apa dia hidup? Mengapa dia sendiri masih hidup sampai saat ini, gadis itu sendiri bahkan tak tahu jawabannya. Dia seperti terbunuh saat Joon meninggal, dan entah mengapa saat ini ia masih berada di sini dan bernafas.

Terdengar suara pintu kamar terbuka. Kali ini ayahnya yang beraksi dan masuk ke dalam kamar Ryeon karena mendengar suara berisik pelayan yang mengetuk kamar Ryeon namun tak ada jawaban.

“Ryeon-ah,” panggil Ayah Ryeon sambil melangkah masuk, diikuti bibi Ahn, kepala pelayan di rumahnya.

Akhirnya Ryeon bereaksi, “Nugu?” tanyanya pada bibi Ahn tapi masih dengan kondisi berbaring diatas tempat tidur dan membelakangi mereka yang masuk.

“Dia laki-laki tampan,”

Ryeon terenyak. Laki-laki tampan? Seingatnya ia tak begitu banyak memiliki teman laki-laki, lalu siapa yang tiba-tiba datang ke rumahnya.

Donghae?

Tidak mungkin, pria itu tak mengetahui alamat rumahnya. Donghae hanya mengetahui alamat apartemen kakaknya dan hanya alamatnya saja, di lantai berapa kakaknya tinggal juga dia tak mengetahuinya.

“Appa sudah lihat orangnya, dia benar tampan, dan appa tak mengira kau memiliki teman setampan dia,”

Seketika itu juga Ryeon bangun dari ranjangnya, menatap Ayahnya dan juga kepala pembantunya dengan kebingungan. “Seperti apa orangnya?”

Jika benar Donghae yang datang, Ryeon akan shock setengah mati. Dia memang sudah beberapa hari ini tak masuk kuliah. Alasannya karena ia tak sanggup untuk melakukan apapun dengan bayang-bayang Joon yang masih melintas di kepalanya, apalagi jika hal itu adalah mengerjakan beberapa tugas kuliah yang memerlukan kemampuan otak lebih dalam. Memakan makanan yang tak perlu menggunakan pikiran saja terkadang masih belum bisa ia lakukan, bagaiman dengan tugas kuliah.

Ayahnya sadar jika Ryeon membutuhkan waktu untuk menyendiri setelah kematian Joon, beliau mengizinkan saja anaknya ijin kuliah. Bukankah percuma jika gadis itu masuk ke kampus, tapi pikirannya tidak berada disana sama sekali. Lagipula kehilangan seseorang yang disayangi bukanlah sesuatu hal yang mudah dilalui, Ayahnya tahu betul tentang hal itu, dan Ryeon butuh waktu untuk memulihkan kondisi emosionalnya. Rumah jelas hal terbaik untuk itu, daripada Ryeon pergi ke sekolah tapi ditengah jalan ketika ia menyetir tiba-tiba pikirannya kosong.

“Kalau tidak salah tadi oppa-mu menelepon, temannya dari Wonder Group,” belum sempat Ayahnya menyelesaikan kalimatnya, Ryeon sudah berdiri dengan cepat.

Baru mendengar kata ‘Wonder Group’ saja ia sudah yakin jika orang tersebut adalah Lee Donghae. Siapa lagi jika bukan pria itu? Park Jungsoo yang merupakan CEO dari Wonder Group, jelas itu tidak mungkin. Untuk apa pria itu menemui Ryeon karena mereka hanya pernah bertemu saat ia menyambut pria itu di hotel, dan lagi yang tidak mungkin adalah setau Ryeon, Park Jungsoo juga telah menikah.

“Yak, yak, apa kau mau menemui pria itu?” tanya ayahnya penuh harap karena sudah beberapa hari ini Ryeon hanya mengurung dirinya di dalam kamar, bahkan keluar sebentar untuk makan saja gadis itu sangat malas.

Sepertinya memang lebih baik jika ada seseorang yang datang menemui Ryeon, karena itu artinya akan ada yang mengajaknya untuk mengobrol sehingga gadis itu akan bisa mengeluarkan apa yang dia rasakan jauh di dalam lubuk hatinya. Sementara hal itu tidak bisa dilakukan sepenuhnya oleh Ayah Ryeon, karena tentu saja saat siang hari pria itu akan lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor mengurus beberapa bisnisnya, meskipun kebanyakan bisnis itu sebagian banyak telah diambil alih oleh Jongwoon kini.

Ryeon mengangguk mengiyakan pertanyaan ayahnya untuk menemui Donghae. Dalam hati ia benar-benar penasaran apa alasan yang membuat pria itu sampai datang ke rumahnya. Dan untuk tahu alasan itu tentu saja ia harus keluar menemui Donghae bukan?

“Nona yakin mau menemuinya dengan keadaan seperti ini?” tiba-tiba bibi Ahn bertanya dengan wajah yang sulit untuk digambarkan oleh Ryeon,

Saat itu juga Ryeon membalikkan tubuhnya ke samping, dan berjalan menuju cermin besar yang terletak di sisi lain ruang kamarnya. Dan dengan sekali lihat, gadis itu terkejut menyadari pantulan dirinya yang amburadul sekali. Sementara ayahnya dan bibi Ahn hanya menahan tawanya saat mengetahui keterkejutan Ryeon melihat sosoknya sendiri dari cermin.

Pada akhirnya, Ryeon terpaksa mengusir dua orang tersebut dari dalam kamarnya dan segera membersihkan wajahnya dan berganti baju yang lebih pantas untuk menemui Lee Donghae yang telah menungguinya di ruang tamu.

**

“Anyyeong,” sapa Donghae. Pria itu berdiri saat melihat Ryeon yang melangkah turun dari lantai dua rumahnya, menemui Donghae yang datang pada saat itu.

“An..anyyeong Donghae-ssi, waeyo?” Donghae tak menjawab. Pria itu justru termangu menatap Ryeon yang tengah mendekat kepadanya.

“Dong.. Donghae-ssi?” tanya Ryeon khawatir.

Gadis itu hanya membatin melihat ekspresi Donghae yang jauh dari perkiraannya. Mungkinkah cuci mukanya dan juga sisiran rambutnya tadi belum berpengaruh banyak pada penampilannya saat ini hingga membuat Donghae begitu terkejut setelah melihat sosoknya?

Donghae seketika itu juga menolehkan wajahnya ke arah lain, seperti baru saja mendapatkan pukulan keras, pria itu tersadar dari lamunannya, “Gwen.. Gwenchanayo?” tanyanya, terdengar lebih khawatir. Pria itu tak menjawab pertanyaan Ryeon sebelumnya karena terlalu terkejut melihat kedua mata gadis itu yang membengkak, wajahnya yang terlihat sedih, dan juga berat badannya yang terlihat cukup banyak berkurang dari terakhir kali mereka bertemu.

“Gwenchana, hanya sedikit tak enak badan. Itu sebabnya aku tak masuk ke kampus,” Ryeon terdiam, lalu ia teringat alasannya menemui Donghae sebelumnya tadi, “Apa yang kau lakukan disini? Bagaimana kau bisa tau rumahku?”

“Aku tidak melihatmu beberapa hari ini. Saat kutanya Hyeonmi dia sendiri juga tak mengetahui alasan yang membuatmu tak masuk,” jelas Donghae, “Aku tidak tahu di lantai berapa kakakmu tinggal di apartemennya, jadi dengan terpaksa aku menggunakan alasan bisnis untuk bertemu kakakmu di Kingdom Hotel dan bertanya alamat rumah ini,” lanjut pria itu.

“Oh,” Ryeon jelas terkejut.

Bahkan Hyeonmi saja yang merupakan teman kuliahnya tidak datang utuk menjemputnya, tapi pria ini, yang bahkan bukan teman kuliahnya sengaja datang untuk menjenguk. Donghae memang pria yang baik. Kalau saja hati Ryeon tak terisi penuh oleh Lee Joon, mungkin sudah sejak dulu ia akan luluh pada pria ini. “Gomawo, Donghae-ssi.”

“Cheonma, lalu apa besok kau sudah masuk kuliah lagi?”

Ryeon menggeleng, “Molla..” jawab Ryeon pelan.

Gadis itu tiba-tiba menunduk, dan ragu untuk menatap Donghae lebih dalam lagi, “Aku..” Ryeon mengangkat wajahnya lagi dan menyadari pria itu menatapnya balik. Lalu Ryeon sadar, keberadaan Donghae di dekatnya selalu membuat gadis itu tak bisa menahan diri untuk bercerita. Donghae seperti.. tempat untuknya menumpahkan perasaan. Entah mengapa bisa seperti itu.

“Donghae-ssi, Joon.. Lee Joon pergi untuk selamanya,” air mata Ryeon tumpah tanpa bisa ia cegah lagi. Berhari-hari menangis sendirian di dalam kamar dan menyimpan kesedihannya seorang diri ternyata tak membuat persediaan air matanya habis, justru semakin banyak, dan sekarang semua air mata tersebut seolah keluar begitu saja di hadapan Donghae.

Lagi-lagi gadis itu menangis di hadapan Donghae. Sesungguhnya Ryeon sendiri juga tak ingin terlihat cengeng di depan pria itu, tapi Ryeon benar-benar tak bisa menahan air matanya yang tiba-tiba saja meluncur begitu saja tanpa bisa ia cegah.

Donghae terdiam, seolah Ryeon baru saja menbicara dalam bahasa yang tidak ia mengerti. Tapi beberapa saat kemudian pria itu menghela nafasnya dalam-dalam, “Aku turut berduka,” katanya kemudian, “Boleh kutau, mengapa dia..”

“Overdosis,” tukas Ryeon sebelum Donghae sempat menyelesaikan kalimatnya, “Aku merasa, seperti menjadi penyebab lelaki itu meninggal..” Ryeon kembali sesegukan.

“Waeyo?”

“Karena… dia meninggal pada hari yang sama ketika kita bertemu dia di coffe shop, dan saat itu aku bahkan mengaku bahwa kau adalah kekasihku,”

Seperti ada yang menghentikan waktu saat itu juga ketika Ryeon menyelesaikan kalimatnya, tak ada satupun dari mereka berdua yang berbicara, yang terdengar dalam ruangan tersebut hanya suara sesegukan dari Ryeon yang belum sepenuhnya selesai.

“Oppa dan juga Appa telah mengatakan berkali-kali bahwa itu bukanlah kesalahanku, karena kalaupun Joon kecewa padaku, dia takkan meninggal jika tak mengkonsumsi drugs,, mereka bilang ini semua adalah kesalahan Joon sendiri, karena dia tak pernah menuruti perkataanku yang memintanya untuk melakukan rehabilitasi. Tapi.. tetap saja dari semua ini aku merasa bersalah..”

Tangis Ryeon kembali pecah dan bahkan semakin kencang, membuat Donghae terpaksa pindah duduk tepat di samping Ryeon untuk bisa menenangkan gadis itu.

“Ssssttt, cukup Ryeon-ah.” Donghae meraih tubuh Ryeon, lalu mendekap gadis itu dalam pelukannya, “Ini memang berat, tapi percayalah, ada rencana Tuhan dibalik ini semua.” Kata Donghae sambil mengusap lembut rambut Ryeon, “Dan apa yang dikatakan appa dan juga oppa-mu itu benar, ini bukan kesalahanmu, jangan menyalahkan dirimu lagi,”

Entah mengapa, Ryeon sepertinya tak ingin melepaskan diri dari pelukan Donghae. Kenapa ini? batinnya pahit. Lee Joon baru saja meninggal, dan dia kini bahkan sudah berpelukan dengan lelaki lain.

Akhirnya dengan semua kesadarannya gadis itu melepaskan diri dari pelukan Donghae yang tampak seperti memiliki magnet di dalam tubuhnya tersebut. Gadis itu duduk tegak lagi sambil mengusap air matanya.

“Mian, semuanya terlalu terbawa emosi,” kata Ryeon sedikit malu.

“Gwenchana,” Donghae saat itu juga terdengar sedikit salah tingkah, “Yahh, sepertinya kau memang butuh waktu untuk menyendiri, untuk menenangkan diri. Telepon aku jika kau butuh apapun, aku sama sekali tidak keberatan untuk berbagi denganmu,”

Ryeon mengangguk, “Gomawo,”

**

“Yak darimana saja kau,” berondong Hyeonmi ketika Donghae baru saja masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamarnya.

Gadis itu mengikuti tepat di belakang Donghae yang mulai menaiki anak tangga satu per satu di kediaman orang tuanya. Sambil masih terus menerus berceloteh pada Donghae betapa sebalnya ia hari ini karena Donghae tiba-tiba saja menghilang dari kantor tanpa memberitahunya, membuat gadis itu terpaksa pulang ke rumahnya sendirian dengan menaiki bus.

Donghae yang sedikit geram karena tingkah Hyeonmi tersebut seketika itu menghentikan langkahnya, tepat di anak tangga paling atas, hingga membuat Hyeonmi terkejut dan hampir saja terdorong ke belakang. Jika saja Donghae tidak dengan sigap menarik tangan gadis itu, mungkin saja saat ia sudah terjatuh ke bawah.

“Hyeonmi-ah,”

“Wae? Waeyo?” tanya Hyeonmi terbata, karena terkejut hampir saja ia jatuh. Dengan cepat gadis itu melepaskan genggaman tangan Donghae yang menahannya tadi, dan berusaha berdiri tegap.

Pria itu diam sejenak, ragu haruskah ia bercerita pada Hyeonmi tentang kondisi Ryeon saat ia menemui gadis itu tadi. Tapi bukankah ia telah berjanji pada Ryeon untuk menyembunyikan masalah pribadinya tersebut dari Hyeonmi?

“Berhati-hatilah, kau hampir saja jatuh,” katanya seraya berbalik dan kembali melangkah masuk ke dalam kamarnya.

Hyeonmi masih menatap Donghae dengan mulut ternganga lebar, tidak salahkah apa yang dia dengar tadi? Dia hampir saja jatuh dari tangga karena kelakuan Donghae, tapi kini justru pria itu menceramahinya seolah dia yang bertindak ceroboh, “Yak, aku hampir jatuh karena dirimu,” pekik Hyeonmi sambil terus mengikuti Donghae masuk ke dalam kamarnya.

Gadis itu masih belum terima saat melihat Donghae yang tiba-tiba saja tadi mengalihkan kalimatnya, seperti ada sesuatu hal yang coba di tutupi Donghae darinya, dan pikirannya menuntun gadis itu untuk terus membuntuti Donghae sampai pria itu mau bercerita kepadanya.

Di dalam kamar Donghae, gadis itu segera naik ke atas ranjang dan tetap menatap Donghae yang tampak gusar. Aneh, biasanya jika pulang kerja begini pria itu akan segera melepaskan jasnya dan segera pergi mandi, akan tetapi tidak dengan malam ini. Pria itu tampak bolak-balik membuka lemari pakaiannya, lalu ke meja kerjanya, kembali lagi ke lemari pakaian, seperti itu hingga berulang kali, membuat Hyeonmi pada akhirnya merasa frustasi sendiri melihat tingkah Donghae.

“Yak,” panggil Hyeonmi kasar pada kakaknya.

“Aku baru saja menemui Ryeon,”

Lagi, Hyeonmi hanya menatap tak percaya pada apa yang baru saja dikatakan Donghae.

“Odi, odiya?” tanyanya gadis itu sedikit tak percaya.

“Di rumahnya,”

Gadis itu kembali diam dengan mulutnya yang lagi-lagi ternganga. Bahkan dia yang merupakan teman Ryeon saja tak mengetahui dimana gadis itu tinggal, mengapa kakaknya justru lebih tau tentang Ryeon daripada dirinya.

Alis Hyeonmi terangkat beberapa senti setelahnya. Ini adalah kali pertama setelah bertahun-tahun, Lee Donghae pergi ke rumah seorang wanita. Seketika itu juga senyuman di bibirnya terangkat, menyadari pasti ada sesuatu lain yang mulai dirasakan oleh kakaknya pada Ryeon.

“Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku hanya menjenguk gadis itu.” Donghae melemparkan salah satu bantal yang ada di ranjangnya tepat ke muka Hyeonmi, setelah mendapati wajah gadis itu yang mulai berubah ekspresi.

“Wae? Apa yang terjadi dengan gadis itu?” tanya Hyeonmi yang tak ambil pusing dengan wajahnya yang terkena lemparan bantal dari Donghae. Benar, jika sudah menyangkut tentang Ryeon, hal itu akan lebih penting daripada menanggapi tingkah kasar Donghae yang melemparkan bantal tadi kepadanya.

“Sepertinya dia terkena flu,” jawab Donghae enteng.

Donghae sudah berjanji pada Ryeon sebelumnya, jadi pria itu tak akan pernah mengingkari janji yang pernah ia buat dengan mengatakan pada Hyeonmi jika Ryeon beberapa hari ini tidak terlihat masuk karena mantan kekasihnya yang baru saja meninggal.

“Aneh, lalu kenapa dia harus membolos sampai berhari-hari?”

“Molla, tapi sepertinya dia sudah baikan.” Jawab Donghae cepat, “Yak, kenapa kau tak menjenguknya, kau bilang kalian berteman?” protes Donghae teringat bahwa selama ini Hyeonmi memang sama sekali tak terlihat bingung untuk menjenguk Ryeon.

“Yak, kau sendiri kenapa tak bilang padaku mau menjenguknya, justru meninggalkanku dan terpaksa aku harus pulang naik bus,” gerutu Hyeonmi.

Sejujurnya beberapa hari ini gadis itu memang berniat untuk menjenguk Ryeon, tapi dia tidak tahu dimana alamat gadis itu tinggal. Dan ketika ia mengirim pesan pada Ryeon untuk bertanya alamat rumahnya, gadis itu sama sekali tidak menjawab. Begitupula saat Hyeonmi coba menghubunginya lewat telepon.

Selain itu juga, akhir-akhir ini ia juga sedang melakukan pendekatan pada salah satu sunbae-nya yang bernama Yong Junhyung itu, sehingga ketika dia tidak mendapatkan respon dari Ryeon, gadis itu tak terlalu memikirkannya.

**

Next Day

 

Ryeon memutuskan untuk masuk kuliah hari ini. Sudah satu minggu lebih dia mengurung dirinya di dalam kamar, dan ayahnya merasa itu telah melewati jangka waktu toleransi bagi Ryeon untuk membolos. Lagi pula, sedih terlalu lama juga tak terlalu baik untuk gadis itu.

Jika ia tetap mengurung dirinya sendiri, gadis itu akan semakin teringat pada sosok Lee Joon. Berbeda dengan jika ia pergi ke kampus, maka disana ia akan memiliki banyak kegiatan yang akan membuatnya sibuk dan tak sempat memikirkan pria itu lagi. Otomatis hal ini akan mempermudah Ryeon untuk melupakan Joon. Seperti itulah yang dipikirkan oleh ayah Ryeon.

Sedangkan untuk Ryeon, Joon bahkan lebih dari bayangannya sendiri. Meskipun bayangan hanya ada di tempat terang, bagi Ryeon proyeksi pria itu selalu ada dimanapun gadis itu berada, tak peduli di tempat terang maupun gelap.

Pagi ini, Ryeon berangkat ke kampusnya dengan diantar oleh sopir pribadi ayahnya yang biasanya mengantar kemanapun ayah Ryeon pergi melakukan kunjungan bisnis. Luka yang belum sembuh sepenuhnya tersebut, membuat ayah Ryeon sedikit khawatir jika gadis itu pergi dengan mengendarai mobilnya sendiri, sehingga ia terpaksa diantar oleh sopir untuk hari ini dan mungkin beberapa hari ke depan.

“Kim Ryeon,” gadis itu menoleh segera ke jalanan dari tempat parkir ketika baru saja turun dari mobil yang mengantarnya sampai di depan gerbang fakultas. Hyeonmi yang sedang berjalan masuk ke fakultas kini sedikit berlari menghampiri Ryeon dengan semangat yang sangat terlihat jelas di wajahnya, dan saat melihat sosok di belakang Hyeonmi, gadis itu merasakan perasaan berdebar kembali.

Lee Donghae, dengan dandanan khasnya yang selama ini Ryeon lihat, memakai kemeja dan juga calana kain yang pas di kakinya, dan juga dipadukan dengan sebuah jas dengan warna serupa. Belum lagi gaya rambutnya yang hari ini sengaja dinaikkan ke atas sehingga memperlihatkan dahinya, benar-benar mempesona.

“Anyyeong,” sapa Ryeon lesu. Gadis itu berhenti sejenak saat melihat Donghae, lalu kemudian bibirnya tersenyum pada lelaki tersebut, “Anyyeong Donghae-ssi,” sapanya kemudian.

“Yak, apa flu yang kau derita cukup parah sampai membuatmu berhari-hari tak pergi ke kampus?” tanya Hyeonmi.

Flu? Ryeon sedikit mengangkat alisnya kemudian, lalu mengalihkan pandangannya kepada Donghae yang sepertinya lebih mengetahui apa yang sedang dimaksud oleh Hyeonmi. saat melihat mata Donghae, gadis itu kemudian paham, bahwa ini mungkin adalah salah satu alasan yang diucapkan Donghae pada Hyeonmi mengenai dirinya beberapa hari belakangan ini.

Gadis itu tersenyum, mengetahui bahwa Donghae benar-benar menjaga janjinya untuk merahasiakan masalah Joon dengan baik.

“Begitulah, aku tidak mau membuat orang lain ikut terserang flu, jadi lebih baik aku tidak masuk kan?” jawab gadis itu mengarang.

“Dan sekarang kau sudah lebih baik?”

Ryeon mengangguk sambil berharap Hyeonmi akan segera menghentikan rentetan pertanyaannya, karena demi apapun gadis itu tidak ingin skenario kebohongan yang lebih panjang dari apa yang telah terlanjur terjadi saat ini.

“Jangan bermain hujan lagi, hati-hati terkena flu lagi, Kim Ryeon.” Kata Donghae tiba-tiba membuat Ryeon seketika itu juga kembali menoleh menatap Donghae dengan sedikit kikuk.

Melihat Donghae dalam kondisi seperti ini membuat Ryeon seketika itu juga menjadi canggung, terlebih lagi jika mengingat dirinya dan Donghae pernah berpelukan beberapa kali akhir-akhir ini, yah meskipun pelukan itu hanya bertujuan untuk menenangkan Ryeon yang tengah sedih karena Lee Joon.

“Baiklah, aku ke kantor sekarang,” kata Donghae lagi, berbalik lalu meninggalkan dua gadis itu di depan gerbang fakultas mereka.

Hyeonmi terlihat berpikir sejenak melihat tingkah Donghae yang begitu manis pada Ryeon. Apalagi jika ia mengingat-ingat kejadian kemarin saat Donghae mengatakan bahwa ia menjenguk Ryeon tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Donghae.

Mungkinkah Donghae kini benar-benar telah jatuh hati pada Ryeon? Tanya gadis itu dalam hati. Baguslah jika memang itu yang terjadi, hanya saja jika mengingat apa yang pernah Hyeonmi lakukan dulu pada Donghae, sampai-sampai membuat gadis itu melakukan sebuah perjanjian dengan Ryeon tiba-tiba saja Hyeonmi menjadi merasa buruk.

 

*TBC*

Next >> Part 5

6 thoughts on “Sweet Candy [Part 4]

  1. udah q duga pas joon bilang udah berubah n mau di rehab, pasti itu cuma mimpi n pertanda kalo joon meninggal..

    nyesek ampe nangis bareng ryeon saking terharu’y sama apa yg appa sama oppa’y ryeon bilang ke ryeon

    ehem.. kyak’y ada yg nyelem sambil nyebur nih kkk ayo semangat donghae runtuhkan pertahanan yg ryeon buat 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s