Fanfiction

Sweet Candy [Part 5]

sweet-candy-2Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4

By: Shin Hyeonmi

Kim Ryeon | Lee Donghae

Note: Sorry, for super super and super late update. Semoga setelah ini tidak akan terlambat lagi, dan ff lain bisa lanjut.

***

The story idea is not mine, I just made the fanfiction version from stories I’ve ever read a few years ago.

**

Hari demi hari berlalu, dan tanpa terasa bulan telah berganti beberapa kali. Ryeon sedikit banyak telah bisa melupakan kenangannya bersama sosok Lee Joon dan mulai kembali menjalani hari-harinya dengan baik.

Siang itu, saat melangkahkan kakinya akan masuk ke hotel yang dikelola oleh sang kakak, kedua mata Ryeon tiba-tiba saja menatap halaman depan hotelnya. Pikirannya saat itu kembali melayang pada kejadian beberapa bulan sebelumnya, ketika Joon menemuinya di depan hotel.

Kakinya saat itu juga tiba-tiba terdorong melangkah dengan sendirinya, tanpa perintah darinya menuju tempat yang sama saat ia menemui Joon pada waktu itu. Semilir angin yang berhembus menerpa permukaan kulitnya yang juga sedikit banyak membuat rambutnya bergerak karena hembusan angin tersebut seolah tak mengurungkan niatnya sedikitpun untuk tetap berada di tempat itu.

Saat itu juga gadis itu tiba-tiba terduduk lemas disana. Ingatannya seolah dibawa kembali saat melihat sosok Lee Joon yang tak bernyawa. Saat itu juga air matanya kembali menetes, mengalir begitu saja tanpa bisa ia cegah.

Tiga puluh menit berselang, Ryeon masih duduk di tempat yang sama. Air matanya telah berhenti mengalir, tangisnya telah selesai, namun ia masih tetap bertahan di tempat tersebut. Bertahan dengan gemelut pikiran yang sama tentang Lee Joon, dan juga kembali berpikir tentang kesalahan yang ia buat pada pria itu.

Rasa bersalah itu kembali datang menyelimutinya, pemikiran tentang penyebab kematian pria itu adalah dirinya seperti kembali memenuhi otaknya. Selama ini ia memang telah berusaha untuk menghilangkan pemikiran bahwa ia adalah penyebab kematian Joon. Setelah semua orang di sekitarnya terus menerus meyakinkan padanya bahwa bukan dia yang menyebabkan pria itu meninggal, hanya saja jika mengingat tentang pria itu lagi, entah mengapa rasa bersalah itu masih terus membekas, meskipun tak sebesar dulu.

Ryeon tersentak seketika, saat menyadari sebuah tangan kini menepuk pundaknya. Mungkin itu tim keamanan hotel, atau mungkin salah satu karyawan hotel yang mengenalinya. Rasa panik saat itu juga mulai memenuhi Ryeon, bagaimana pegawai hotel ini mengetahui dirinya yang baru saja menangis di tempat ini? Ya Tuhan, apa yang harus ia lakukan saat ini?

“Ryeon-ah.” Panggil sosok itu dari belakang Ryeon.

Satu detik, dua detik, gadis itu diam. Mencoba mengingat siapa pemilik suara ini. Satu sisi gadis itu merasa lega karena ini bukan pegawai hotel yang mendapatinya disini, karena tiak mungkin pegawai hotel disini memanggilnya dengan ‘Ryeon-ah’, mereka semua sudah pasti memanggil Ryeon dengan sebutan ‘sajangmin’.

Tapi suara ini sepertinya tidak terlalu asing untuk Ryeon dengar, seperti akhir-akhir ini cukup sering berkomunikasi dengannya. Lee Donghae?

Gadis itu tersingkap saat itu juga, berdiri dan segera berbalik menghadap sosok di belakangnya. Dan benar saja saat ini Donghae tengah berdiri tepat di belakangnya dengan tatapan penuh cemas karena melihat Ryeon yang masih beberapa kali terisak setelah menghabiskan tangisnya.

“Wae, waeyo? Gwenchana?” tanya Donghae khawatir.

“Ani, ani, gwenchana.” Jawab Ryeon terbata-bata. Bukan karena ia masih belum menyelesaikan tangisnya, hanya saja ia benar-benar terkejut dengan kedatangan mendadak Donghae di tempat ini. Rasanya seperti ia baru saja kedapatan mencuri barang milik Donghae, dan pria itu mengetahui perbuatannya.

Semenjak kepergian Lee Joon, Donghae adalah salah satu orang yang selalu mendampinginya. Pria itu selalu memberikan semangat kepada Ryeon untuk tetap tegar lewat pesan-pesan singkatnya. Dan mungkin Donghae memang satu-satunya orang luar yang benar-benar memberikan Ryeon dukungan untuk terus menjalani hidupnya semenjak ditinggalkan oleh Joon diluar keluarganya sendiri seperti Ayah, Kakak laki-lakinya, dan juga kakak iparnya.

Dukungan yang selalu diberikan oleh Donghae itu juga yang membuat keduanya seakan semakin dekat akhir-akhir ini. Setiap hari mereka selalu saling berkomunikasi, entah itu ketika mereka berdua bertemu di area kampus saat pria itu mengantarkan Hyeonmi kuliah, atau bahkan selain mengirimi pesan singkat pria itu juga sering menelepon Ryeon untuk mengajaknya mengobrol atau sekedar menanyakan kabar.

“Disini.. dia pernah datang menemuiku sekali sebelum meninggal,” Ryeon menunduk lemah, menceritakan apa yang pernah terjadi di tempat dimana saat ini mereka berdua berdiri.

Sementara Donghae tampak sedikit bingung jarus bagaimana bertindak, haruskah ia menarik paksa tubuh Ryeon saat ini dan memeluknya erat, atau tetap berdiri berhadapan seperti ini, di tempat ini.

“Kenapa? Kenapa aku harus kehilangannya?” saat itu juga Ryeon mengangkat wajahnya, menatap urus kedua bola mata Donghae, menempatkan kedua tangannya di bahu pria itu lalu mengguncang-guncangkan Donghae. “Kenapa dia pergi begitu cepat?” lanjut Ryeon.

“Tenang, Ryeon-ah, tenang.” Donghae menahan tangan Ryeon yang mengguncang-guncangkan tubuhnya dan balik menangkup kedua pipi Ryeon dengan kedua telapak tangannya, membawa gadis itu untuk menatapnya semakin dalam, “Semuanya sudah terjadi, menangisinya terus menerus tidak akan membuat dia tenang disana,”

Ryeon tak menjawab, gadis itu hanya menyusut dan membiarkan Donghae mengusapkan lembut rambutnya dan menyibakkan beberapa helai rambut tersebut yang menutupi wajah ke belakang telinganya. Ditariknya dalam-dalam nafasnya kemudian, mencoba menenangkan dirinya kembali. Apa yang dikatakan Donghae benar, menangisi Lee Joon terus menerus tidak akan membuatnya kembali dan justru hanya akan membuat pria itu merasakan tidak tenang di alamnya saat ini.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Ryeon setelah dirinya tenang.

“Aku? aku.. aku ada beberapa urusan tadi di hotelmu, dan saat aku kembali aku melihatmu disini,” jawab Donghae salah tingkah.

Pria itu tak memiliki urusan apapun di hotel ini, dan semua yang ia katakan adalah sebuah kebohongan. Yang sebenarnya terjadi adalah, tadi ia tak jadi menjemput adiknya pulang kuliah karena ternyata Hyeonmi pulang bersama dengan kekasih barunya dan akan pulang sendirian nanti. Ketika Donghae berencana untuk kembali, secara tak langsung ia melihat mobil Ryeon yang melintas di depan mobilnya. Entah angin apa yang merasuki pria itu, tanpa bisa ia cegah nalurinya mengikuti kemana perginya Ryeon.

Saat melihat Ryeon menghentikan mobilnya di pelataran Kingdom Hotel, pria itu seolah tersadar dengan apa yang diperbuatnya, benar-benar tak masuk akal. Bagaimana bisa nalurinya begitu saja berjalan mengikuti kemana perginya gadis itu. Namun saat ia bersiap kembali ke kantornya, sekali lagi ia melirik kearah Ryeon yang telah keluar dari mobil namun tidak berjalan masuk ke dalam, melainkan ke halaman depan hotel yang sedikit sepi jika di bandingkan area-area lain di hotel tersebut. Saat itu juga, Donghae memutuskan untuk turun dari mobilnya dan kembali mengikuti Ryeon, dan disinilah ia sekarang melihat bagaimana gadis itu kembali lemah yang lagi-lagi disebabkan oleh pria bernama Lee Joon.

“Baiklah, aku harus kembali ke kantor sekarang,” kata Donghae lagi kemudian. “Masuklah, bukankah kau tadi akan masuk ke dalam hotel?” tanya Donghae.

Gadis itu mengangguk, lalu mulai menegakkan dirinya kembali. Ryeon kemudian mengantarkan Donghae menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan depan hotel. Dalam hati, gadis itu sedikit bertanya, bukankah Donghae bilang tadi ia ada urusan yang membuatnya berada di hotel ini? Namun mengapa mobil pria itu anya di parkirkan di pinggir jalan? Bukannya di dalam area parkir hotel?

Tapi kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya lagi, tak mau berpikir yang tidak-tidak tentang Lee Donghae.

“Emm.. apa nanti malam kau sibuk?” tanya Donghae tiba-tiba memecahkan lamunan singkat Ryeon.

Ryeon mengerutkan alisnya sejenak, mengingat-ingat jadwalnya hari ini, “Ani, waeyo?” tanyanya kembali.

“Boleh aku menjemputmu? Ada tempat yang ingin kuperlihatkan padamu.” Kata Donghae kemudian yang hanya di jawab anggukan persetujuan oleh Kim Ryeon.

**

“Oppa, apa kau memiliki proyek bersama dengan Wonder Group?” tanya Ryeon pada kakaknya setelah menyelesaikan bebeapa berkas yang perlu ia tanda tangani hari ini di hotel.

Ryeon menghempaskan tubuhnya kemudian di salah satu bagian sofa yang ada di dalam ruang kerja kakaknya, sambil menyesap minuman kaleng yang baru saja ia ambil dari lemari pendingin yang ada di ruangan tersebut.

“Ani, wae?” jawab Jongwoon singkat masih sambil tetap fokus pada tumpukan berkas yang ada di hadapannya.

“Apa tadi kau bertemu dengan Lee Donghae dari Wonder Group?” tanya Ryeon lagi.

Jongwoon menghentikan sejenak aktivitasnya lalu menatap Ryeon. Kemudian ia berdiri dari kursi kerjanya, berjalan mendekat pada Ryeon yang masih duduk santai di dalam ruangan kantornya, “Lee Donghae yang bertanya alamat rumah Appa dulu?” tanya Jongwoon balik.

Gadis itu mengangguk, mengiyakan pertanyaan sang kakak. Selama ini memang kakaknya baru sekali bertemu dengan Donghae. Itu terjadi saat Lee Joon baru saja meninggal, dan Ryeon menutup seluruh akses komunikasinya, ponsel dan juga semua sosial media yang biasa ia gunakan saat itu sengaja ia matikan. Dan itulah sebabnya saat itu Donghae datang ke hotel, mencari kakaknya untuk menanyakan keberadaan Ryeon yang ternyata langsung direspon oleh kakaknya dengan memberikan alamat rumah Ayahnya, dimana saat itu Ryeon berada.

“Selama ini aku belum pernah bertemu kembali dengan pria itu, waeyo?”

“Ani, tak ada apa-apa,” jawab gadis itu cepat, namun pikirannya kembali bertanya-tanya mengapa Donghae berbohong kepadanya?

“Bibi Ahn bilang kau sering mengobrol lewat telepon saat malam hari, apa pria itu?” tanya Jongwoon lagi.

Ryeon seketika itu juga membulatkan matanya, mencoba untuk menverna kembali kalimat kakaknya barusan. Bibi Ahn? Oh rupanya saat ini Bibi Ahn sudah mulai bersekutu dengan kakaknya dengan cara melaporkan perbuatan yang dilakukan gadis itu.

“Apa saja yang sudah dikatakan bibi Ahn padamu?”

Demi apapun sesampainya ia di rumah nanti, gadis itu akan membuat perhitungan pada Bibi Ahn yang telah bersekutu dengan kakaknya. Dan mungkin setelah ini ia memang harus lebih berhati-hati lagi, karena kini bibi Ahn bukan saja bersekutu dengan Ayahnya.

“Jawab aku dulu, apa benar itu Lee Donghae? Apa kau berkencan dengan pria itu?”

“Oppa, ini tidak seperti yang kau pikirkan, kami hanya berteman. Dan lagi, bagaimana bisa aku berkencan dengan pria lain setelah kepergian Lee Joon?”

Jongwoon diam sesaat setelah mendengar nama itu yang disebutkan lagi oleh adiknya. Dengan sadar, pria itu mulai bergerak kembali, duduk tepat di samping Ryeon dan menatap lurus gadis itu, “Ryeon-ah, sudah saatnya kau melupakannya,” kata Jongwoon pelan.

Ryeon melirik kakaknya tersebut dengan tajam, membuat Jongwoon sedikit salah tingkah kemudian, “Aku tak mengerti apa Oppa katakan,” tanyanya tajam.

“Ini bukan berarti menghilangkan pria itu dari hidupmu, tapi menerima kenyataan bahwa dia sudah pergi. Dan kau, tak bisa menghabiskan hidup seperti ini terus menerus. Kim Ryeon, kau masih muda. Kau masih memiliki banyak waktu untuk bahagia, bukan berkubang dalam keadaan ini.”

“Cukup, jangan mulai menasihatiku lagi,” kata Ryeon mengibaskan tangan dan menempelkan di kedua sisi telinganya sendiri, seolah dia tidak ingin mendengar apapun lagi yang keluar dari bibir Jongwoon.

“Aku tahu, kau akan besikap defensif seperti ini, itu wajar,”

“Aku tidak defensif,” sangkal Ryeon.

“Hanya dengan mengatakannya saja itu sudah cukup membuktikan jika saat ini kau defensif,” balas Jongwoon halus, tahu jika saat ini ia telah memenangkan debatnya dengan Ryeon, “Ryeon-ah, sudah cukup kau merasakan sedih. Oppa, Appa, dan juga Sojin, kami menunggumu untuk menyerah dan memutuskan untuk kembali bahagia.”

Ryeon meremas botol minuman kaleng yang ada dalam genggamannya, berusaha untuk menulikan telinganya, tapi kata-kata Jongwoon tadi benar-benar menusuk ke dalam.

“Tapi…”

“Bukankah sudah ada Donghae? Bukankah dia juga sudah cukup banyak membantumu untuk merelakan kepergian Lee Joon?”

“Oppa, hubungan kami tidak seperti yang kau pikirkan?” sela Ryeon.

Entah mengapa selama ini Ryeon selalu berusaha untuk menampik segala pemikiran tentang Donghae yang mendekatinya. Ia tak ingin menjadi sosok gadis yang terlalu percaya diri dengan menganggap bahwa apa yang dilakukan Donghae selama ini padanya adalah karena tujuan tertentu. Ia yakin selama ini apa yang diperbuat Donghae padanya benar-benar murni dan tulus karena ia ingin berteman baik dengan Ryeon. Dan tak seharusnya Ryeon berpikiran macam-macam tentang niatan baik Donghae padanya itu.

“Aku tidak bermaksud menjelek-jelekkan Joon di depanmu, aku hanya ingin mengajakmu untuk berpikir rasional. Semuanya berdasarkan fakta. Ketika Joon masih hidup apakah kau merasakan hidupmu tenang? Dan saat dia sudah pergi, kau bahkan lebih tidak tenang lagi. Ryeon-ah, apa kau tahu bagaimana cara orang menghilangkan rasa pahit setelah minum Americano? Mereka menggunakan permen manis untuk menghilangkan rasa pahitnya, bukan dengan membiarkan rasa pahit itu terus berada di lidah.”

Ryeon terkesiap. Jongwoon benar-benar memiliki kemampuan mengontrol otak orang lain dengan luar biasa. Dengan menggunakan kalimat-kalimat itu, pria itu telah sukses membuat Ryeon merasa tertusuk dengan perumpamaan-perumpamaan yang dia buat.

“Aku hanya tidak ingin terlalu percaya diri dengan yang dilakukan Donghae selama ini,”

“Ani. Kau tidak salah, dia memang ‘permen manis’ yang kumaksud. Go get him, dan biarkan Lee Joon menjadi masa lalumu, Arra?”

Ryeon mengendikkan bahunya dan menghempaskan punggungnya bersandar pada sofa. Ia tahu, akan lebih mudah membiarkan Donghae masuk ke hatinya jika pintunya telah terbuka. Dan saat ini memang pintu itu mulai terbuka, bersamaan dengan terkuncinya pintu lain yang berisi kenangan-kenangan tentang Lee Joon.

**

Donghae menghentikan mobilnya di pinggir jalan, tepat di depan sebuah bangunan taman kanak-kanak yang di halamannya terdapat beberapa permainan khas balita dan juga sebuah kolam air mancur yang di dalamnya berisikan beberapa jenis ikan kecil-kecil. Tanpa menunggu Donghae membukakan pintu untuknya, Ryeon segera turun dengan membuka pintu mobil itu sendiri.

Angin malam yang berhembus saat itu menerpa permukaan kulit Ryeon yang masih mengenakan sebuah kaos tshirt lengan pendek dan juga sebuah rok mini, pakaian yang tadi ia kenakan untuk pergi kuliah.

Donghae tersenyum, dan mengisyaratkan pada Ryeon untuk melangkah mengikutinya memasuki area taman kanak-kanak tersebut yang sedikit gelap karena memang tidak ada penerangan di halamannya.

Malam ini Donghae mengatakan ingin membawa Ryeon ke sebuat tempat yang special untuknya, dan ternyata tempat inilah yang dimaksud oleh Donghae. Sebuah taman bermain anak-anak. Tapi saat melihat bagaimana wajah serius Donghae, gadis itu tahu pasti ada cerita lain bagi Donghae sehingga ia bisa mengatakan bahwa tempat ini adalah tempat special untuknya.

“Saat aku berada di sekolah dasar, hampir tidak ada kenangan indah yang ku lalui bersama dengan eomma karena saat aku mulai sekolah dasar saat itulah eomma mulai terserang penyakit yang menggerogotinya.” Donghae mulai bercerita.

Ryeon mengangkat salah satu alisnya, menatap Donghae, lalu paham jika alasan Donghae mengatakan tempat ini adalah tempat special adalah karena kenangan yang ia lalui bersama dengan ibu kandungnya adalah di tempat ini.

“Dulu, saat masih TK, eomma selalu menungguku di kursi ini sambil menghadap pancuran air dari kolam.”

Donghae tertawa kecil, dan menggeleng-gelengkan kepalanya sampai membuat Ryeon bingung harus berkata apa, jadi gadis itu membiarkan Donghae melanjutkan ceritanya.

“Disini, sepulang sekolah aku selalu berlari dan memeluk eomma, lalu bertanya apakah ikan-ikan di kolam ini sudah diberi makan? Padahal tentu saja itu bukan tugas eomma ataupun orangtua murid yang lain.” Donghae melanjutkan ceritanya, “Saat eomma meninggal, aku tidak menangis sama sekali, dan justru meminta salah satu sopir yang ada di rumah untuk mengantarkanku ke tempat ini, sesampainya disini semua air mataku keluar. Hanya malam itu, di malam-malam lainnya aku tidak pernah menangis lagi bahkan saat aku datang ke tempat ini lagi.”

“Itu sebabnya kau menganggap tempat ini special?” tanya Ryeon yang kemudian dijwab anggukan oleh Donghae

Ryeon menatap pancuran air kolam tersebut lurus, sambil menghayati setiap hal yang dikatakan Donghae. Tak ada yang special jika ia melihat semua ini, tapi mendengar Donghae menganggap tempat ini adalah tempat yang special, entah mengapa semua yang ia lihat ini dapat membuat hatinya juga merasakan tenang.

“Donghae-ssi,” panggil Ryeon kemudian, “Ada hal yang ingin ku katakan,” lanjut Ryeon.

“Tunggu, tidakkah kau merasa sedikit canggung saat memanggilku dengan embel-embel –ssi?” tanya Donghae yang membuat Ryeon kembali mengangkat alisnya.

Selama ini ia memang selalu memanggil pria itu dengan embel-embel –ssi karena memang usianya yang lebih tua beberapa tahun dari Ryeon. Ia tidak mungkin memanggil pria itu dengan ‘Donghae-ah’ karena itu sedikit tidak sopan jika melihat jarak usia mereka.

“Panggil saja aku oppa, bukankah aku memang lebih tua darimu?” tawar Donghae kemudian.

Gadis itu sedikit mengernyit kemudian. Tidakkah itu akan membuatnya semakin canggung? Oke baiklah, panggilan ‘oppa’ memang ditujukan pada seorang lelaki yang memiliki jarak usia lebih tua dari wanita, namun terkadang sepasang kekasih juga menggunakan panggilan itu. dan tentu saja itu membuat Ryeon kembali teringat pada percakapannya dengan Jongwoon tadi di kantor.

“Ne-ne.. oppa,” jawab Ryeon pelan, dan bahkan sangat pelan hingga membuat Donghae harus memalingkan wajahnya kembali untuk melihat Ryeon yang tengah tertunduk malu.

“Bisa kau keraskan suaramu saat memmanggilku ‘oppa’?” pinta Donghae dengan menahan tawanya.

Lucu rasanya melihat Ryeon yang tengah menahan malu hanya karena panggilan ‘oppa’ itu, dan haruskah Donghae menjahili gadis itu lagi? Sepertinya sudah cukup lama ia tidak menjahili gadis itu seperti ini.

Sadar bahwa Donghae sedang menertawakannya, Ryeon memukul dengan keras salah satu lengan Donghae, hingga membuat pria itu kesakitan karena kerasnya pukulannya. Ketika ia sedang berusaha setengah mati menahan malu tapi ternyata orang yang membuatnya malu justru menertawakannya rasanya itu sangat menyebalkan. Tapi Ryeon tahu bahwa ini hanyalah sebuah candaan, sehingga gadis itu juga tak terlalu memasukkannya ke hati.

“Aku ingin minta maaf padamu,” lanjut Ryeon.

Donghae saat itu juga menghadapkan tubuhnya menatap Ryeon dengan wajah yang sedikit heran. Seingatnya mereka tidak berselisih paham barusan, tapi mengapa tiba-tiba saja gadis ini meminta maaf seperti ia telah melakukan kesalahan.

“Mungkin kau ingat, saat-saat awal kita berkenalan, aku sengaja menjaga jarak denganmu,”

Pria itu tersenyum kemudian, mengerti kemana arah perkataan Ryeon, “Ne, sampai-sampai aku harus mendapatkan omelan dari Hyeonmi karena kau menolak ajakanku,” jawab Donghae enteng. Dalam hati Ryeon hanya dapat bersyukur karena dia dipertemukan dengan seseorang seperti Donghae yang benar-benar baik, setelah semua perbuatannya yang tidak menyenangkan tersebut nyatanya pria ini sama sekali tidak ambil pusing.

“Mianhae.” Pinta Ryeon lagi, “Saat itu aku bahkan benar-benar menolakmu, padahal jika wanita lain yang berada di posisiku, mungkin mereka tidak akan pernah menolakmu..”

“Belum tentu,” potong Donghae, “Wanita yang benar-benar ku sukai bahkan meninggalkanku,”

Seperti ada yang baru menyumbat tenggorokan Ryeon dengan sesuatu, karena mendadak gadis itu merasa speechless. Dia, tanpa sadar telah memasuki wilayah privasi Donghae. Obrolannya dengan Hyeonmi beberapa bulan sebelumnya tentang wanita yang meninggalkan Donghae seperti diputar ulang di depan mata Ryeon.

“Mian, mianhae, aku tidak bermaksud..”

“Gwenchana, aku memang berniat untuk menceritakan hal ini. Agar semuanya adil, selama ini kau selalu bercerita tentang masalahmu, tapi aku tidak pernah sekalipun menceritakan masalahku,”

“Jangan menganggap itu sebagai sebuah keharusan..”

“Ani, aku memang sudah berencana untuk menceritakan hal ini suatu hari, tapi belum ada saat yang tepat sampai tadi secara kebetulan kita membahas hal itu, yah tidak ada salahnya jika saat ini aku mulai menceritakannya,”

Ryeon terenyak. Donghae mulai bercerita tentang wanita itu, wanita yang membuatnya patah hati setengah mati sampai tanpa sadar membuatnya menjadi dingin pada wanita-wanita lain. Wanita yang dia pikir adalah belahan jiwanya sampai ia rela memberikan semua yang diminta gadis itu, tapi ternyata pada akhirnya dia menghilang dari kehidupan Donghae tanpa meninggakan pesan apapun.

Wanita yang bahkan membuat integritas Donghae di perusahaan saat itu hampir saja dipertanyakan karena ia selalu menuruti permintaan gadis itu hingga melalaikan tugas-tugas perusahaan yang dilimpahkan padanya.

Sepanjang Donghae bercerita, Ryeon terpaksa memasang wajah terkejut dan berpura-pura tidak pernah mengetahui hal ini sebelumnya. Dia tak ingin membayangkan jika Donghae tahu Ryeon sudah pernah mendengar ceita ini dari Hyeonmi.

“Namanya Jiyun,” kata Donghae. Ekspresinya seperti orang yang dipaksa menelan biji kedondong saat menyebutkan nama itu, “Aku benar-benar tidak tahu dimana saat ini gadis itu berada,”

“Tidakkah kau mencoba mencari tahu dimana ia sekarang?”

“Untuk apa? Aku memang berencana untuk melupakan gadis itu. Jika kucari tahu dimana dia, semua akan semakin sulit. Tak pernah bertemu selama beberapa tahun pada akhirnya benar-benar membuatku melupakan gadis itu. Tapi tetap saja, tidak akan pernah menghapus sosok sosoknya dalam hidupku. Seperti jika kau menulis diatas kertas putih, dan menghapusnya dengan menggunakan tip-ex, bekas tip-ex itu masih akan tetap ada. Dan kertas yang kau tulis itu tidak akan pernah kembali menjadi bersih.”

Ryeon manggut-manggut. Perumpamaan Donghae sesuai sekali dan mungkin seperti itu jugalah ingatannya tentang Joon dalam hidupnya. Berapa kalipun dihapus, takkan pernah menjadi bersih seperti semula. Perumpamaan itu juga membuat gadis itu teringat kembali pada perumpamaan yang disebutkan oleh kakaknya tadi siang.

“Kau benar,” kata Ryeon pelan.

“Apa kau teringat lagi pada Lee Joon?” tanya Donghae tepat sasaran.

Ryeon menghela nafas, “Sedikit, tapi sudahlah. Dia hanyalah masa lalu, karena sekarang pria itu sudah tak ada..”

Donghae menatap Ryeon dengan menyunginggakn senyumnya sekali lagi. Rasanya lega saat ia mendengar Ryeon menyebut Joon adalah ‘masa lalu’ karena selama ini sepertinya Ryeon tidak pernah bisa rela melepaskan dirinya sendiri dari bayang-bayang itu.

“Waeyo? Kau terkejut?” tanya Ryeon, seolah bisa membaca pikiran Donghae.

“Mmm.. ya, sedikit.”

“Aku memang baru saja mengambil keputusan untuk melupakannya. Semuanya terasa tidak mudah, tapi bukankah ini tetap harus kucoba? Kupikir rasa pahit Americano di lidahku memang harus kuhilangkan dengan mencari permen manis,”

“Mwo? Americano?” tanya Donghae heran setengah mati.

Ryeon menepuk dahinya pelan, sadar ia baru saja melantur lagi di depan Donghae, “Ani, ani. Itu hanya perumpamaan yang dibuat kakakku, bukan dalam artian sebenarnya.”

Donghae terkekeh kemudian lalu kembali menatap pancuran air yang ada di hadapannya. Ditariknya nafasnya dalam-dalam kemudian hingga dapat Ryeon dengarkan suara tarikan nafas tersebut, “Apa kau tidak ingin bertanya mengapa aku mengajakmu ke tempat ini?” tanya Donghae kemudian.

Ryeon menggeleng kemudian. Tadi ia memang sempat bertanya dalam hati mengapa Donghae membawanya ke tempat yang dia bilang special ini. Hanya saja kembali gadis itu tidak mau terlalu percaya diri sehingga ia memutuskan untuk tak terlalu memikirkan hal tersebut.

“Saat Jiyun menghilang, aku datang ke tempat ini lagi, seperti biasa untuk menenangkan pikiran dan hatiku. Setelah itu aku berjanji pada diriku sendiri, jika aku menemukan wanita yang spesial dalam hidupku, aku akan membawanya ke tempat ini.”

Ryeon melongo saat itu juga. Tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari bibir Donghae. Benarkah itu? benarkah dia adalah wanita yang special bagi Donghae? Tidakkah ini adalah perasaan terlalu percaya dirinya?

“Ryeon-ah,” panggil Donghae kemudian, Ryeon menoleh, dan mendapati Donghae yang kini tengah menatap penuh harap kepadanya, “May I try?” tanya Donghae kemudian.

Jantung Ryeon seolah berdegup kencang. Apa yang dimaksud Donghae? Mungkinkah dia tengah meminta ijin pada Ryeon untuk mendekatinya?

Try what?”

Replacing him..”

Sekali lagi gadis itu mengerjap. Dugaannya ternyata benar, dan ini bukan seperti pemikirannya yang mengira dia terlalu percaya diri. Lee Donghae benar-benar menjadi ‘permen manis’ nya, dan ‘permen manis’ itu sudah ada di hadapan Ryeon.

You may,” jawab Ryeon sambil tersenyum,

Ada perasaan lega yang merasuki Donghae setelah mendengar jawaban Ryeon. Seperti ada satu masalah besar yang selama ini telah coba ia pecahkan, namun tak kunjung berhasil, dan baru saja ia memecahkan masalah itu. Kedua matanya saat itu juga melihat pancaran senyum di bibir Ryeon, membuat kedua sudut bibirnya ikut tertarik dan menyunggingkan sebuah senyum pula pada gadis itu. hanya saling menatap dan memberikan senyum, itu saja yang terjadi diantara mereka berdua selama beberapa saat. Sampai kemudian Ryeon yang merasa canggung dengan keadaan tersebut mengalihkan pandangannya kepada gemercik pancuran air kolam.

Berbeda dengan Donghae, pria itu masih terus menatap Ryeon meskipun gadis itu telah mengalihkan pandangannya. Dan tentu saja hal ini membuat gadis itu semakin merasa canggung. Haruskah saat ini ia mencoba menceritakan cerita-cerita lucu untuk mencairkan suasana. Tapi sepertinya ia sendiri juga tak memiliki stok cerita lucu, ahh tapi bukankah ia bisa menceritakan beberapa tingkah konyol kakaknya pada Donghae, menurutnya tingkah-tingkah konyol itu cukup lucu dan sering membuatnya tertawa jika mengingat, tapi entah apakah itu akan memberikan reaksi yang sama pada Donghae?

Persetan, daripada ia harus terjebak dalam situasi canggung seperti ini, pikir Ryeon.

“Kau tahu…” ucap Ryeon yang pada awalnya ingin mulai bercerita pada Donghae.

CUUUP..

Ryeon terdiam, kesadarannya seolah hilang dalam beberapa detik. Seperti ada sebuah benda lembut yang menempel pada bibirnya. Itu milik Lee Donghae. Refleks, sedetik kemudian gadis itu menutup kedua matanya, merasakan lebih dalam bibir Donghae yang menyentuh permukaan bibirnya. Tak lama kemudian, pria itu menggerakkan bibirnya, dan Ryeon hanya dapat mengikuti alur yang dibuat oleh Donghae. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang cukup romantis untuk mereka berdua.

 

**

Hyeonmi mengunci layar ponselnya kembali. entah mengapa perasaannya sejak tadi sangat tidak tenang. Bukan, ini bukan tentang hubungannya dengan kekasihnya Junhyung ataupun dengan mantan-mantan kekasihnya, tapi ini lebih kepada hubungan kakaknya dengan teman baiknya, Kim Ryeon.

Gadis itu ingat, ia masih memiliki satu kesalahan pada Donghae, dengan menceritakan masa lalunya dulu kepada Ryeon yang notabene bukanlah bagian dari keluarga mereka. Apakah seharusnya dia menceritakan hal ini pada Donghae? Karena akan lebih baik jika pria itu mengetahui hal ini langsung dari dirinya sendiri daripada Donghae tahu tentang perjanjiannya dulu dari orang lain.

Tapi bagaimana nanti jika Donghae marah padanya? Terlebih lagi, bagaimana nanti jika itu akan berpengaruh pada hubungan Donghae dan Ryeon, apalagi saat ini mereka berdua sedang dekat-dekatnya.

Hyeonmi mendengar suara gerbang depan rumahnya yang terbuka, pasti itu Donghae. Dengan cepat gadis itu berlari ke jendela kamarnya yang menghadap ke depan rumahnya, dan benar-benar mendapati mobil Donghae yang baru saja terparkir dan kini mesinnya baru saja mati. Gadis itu beranjak, dan segera melangkah keluar, menunggu Donghae memasuki kamarnya.

“Oppa, ada yang mau kubicarakan,” todong Hyeonmi saat pria itu baru saja sampai di anak tangga paling atas rumahnya.

Donghae berjalan mendekat, membuka pintu kamarnya sambil melepaskan dasi yang melingkar di lehernya. Keningnya sedikit berkerut melihat tampang serius yang ditunjukkan oleh Hyeonmi, tidak biasanya gadis ini bertingkah seserius ini.

“Waeyo?” tanya Donghae sambil memasuki kamarnya.

Hyeonmi mengikuti langkah Donghae masuk ke dalam kamar dan segera duduk di pinggir ranjang Donghae, “Tapi kau harus berjanji untuk tidak marah.”

Kali ini Donghae meletakkan dasinya diatas meja, dan melepaskan jas yang ia kenakan. “Tunggu, apa kau baru saja melakukan kesalahan yang parah?”

“Yah, cukup parah..”

“Jangan bilang kau hamil? Dengan siapa kau hamil hah? Jongsuk? Atau dengan pacarmu yang sekarang, siapa namanya? Junhyung?”

Hyeonmi mendengus, “Aku tidak segila itu, aku masih bisa mengontrol diriku. Ini tentang… Ryeon.”

“Kim Ryeon? Waeyo?”

“Mmm..” Hyeonmi masih ragu untuk meneruskan kalimatnya, hanya saja ia kembali teringat akan lebih baik jika Donghae mengetahui hal ini dari dia sendiri bukan dari orang lain, “Sebenarnya.. dulu aku pernah meminta tolong pada Ryeon untuk mendekatimu..”

Donghae melongo, “Maksudmu?”

“Yah, karena aku.. aku tak tega melihat tingkahmu yang dingin pada wanita sejak Jiyun menghilang, dan kulihat Ryeon adalah wanita yang baik, dan.. kupikir kalian akan cocok satu sama lain, dan..”

Sunyi selama beberapa detik. Donghae menatap adiknya itu lekat-lekat.

“Yak!!” seru Donghae kemudian membuat Hyeonmi nyaris terlonjak dari duduknya, “Kau sadar apa yang sudah kau lakukan? Kau membuatku terlihat seperti pria yang menyedihkan, kau tau? Jadi selama ini, Ryeon mendekatiku karena permintaanmu? Bukan karena keinginannya sendiri?” Donghae tiba-tiba saja meledak.

“Ani, aniyo oppa. Bukan seperti itu. Kami telah membatalkan seluruh kesepakatan itu. Sejujurnya saat itu ia terlihat begitu tertekan. Itu yang membuatku berpikir lagi, dan aku sadar bahwa hal yang ku minta itu adalah hal yang paling konyol. Bukankah cinta memang tak bisa dipaksakan?”

Otak Donghae berputar cepat. Ryeon tertekan?

“Kapan hal itu terjadi?” Donghae mulai mereda. Dia baru saja tersadar bahwa tak ada gunanya marah sekarang. Justru mungkin lebih baik jika ia mendengarkan semua perkataan Hyeonmi.

“Cukup lama, awal-awal kami masuk kuliah.”

Donghae terdiam, dan berpikir. Mungkinkah itu yang menjadi penyebab awal perkenalan mereka, dimana Ryeon terkesan ‘terpaksa’ mendekatinya, tapi saat Donghae menunjukkan respon, gadis itu justru mundur dengan teratur. Ya, pasti itu. Ryeon mendekatinya karena permintaan Hyeonmi, tapi dia mundur saa Donghae menunjukkan respon karena sebenarnya dia tidak menyukai Donghae.

“Lalu..” Donghae diam, agak ragu melanjutkan kalimatnya, “kenapa saat ini dia mau dekat denganku? Bukan karena permintaanmu lagi kan?”

Hyeonmi cepat-cepat menggeleng, “Ani, aniyo. Kali ini bukan aku, sungguh. Aku juga heran mengapa kalian berdua bisa sedekat ini saat perjanjian itu bahkan telah dibatalkan.”

“Dan, kenapa Ryeon tidak pernah cerita apapun tentang ini semua?”

“Yahh, karena Ryeon bukanlah gadis bodoh. Dia pasti tau kalau kau akan malu jika dia cerita tentang perjanjian itu,”

“Lalu kenapa kau tiba-tiba bercerita tentang ini semua?”

“Eh.. bukan, bukan apa-apa.. Aku hanya merasa bersalah jika kau tidak tau masalah ini, dan sesungguhnya aku juga penasaran mengapa Ryeon bisa dekat denganmu tanpa terpaksa.”

Mungkin karena Lee Joon sudah pergi, jawab Donghae dalam hati, karena itulah Ryeon mulai bisa menerima kehadiran orang lain dalam hidupnya.

“Molla.”

“Oppa, dengar aku. Jika ada orang yang harus disalahkan karena hal ini, itu adalah aku. Aku yang meminta Ryeon untuk mendekatimu, akulah pemilik ide konyol itu, dan Ryeon sama sekali tak bersalah. Kumohon jangan marah pada Ryeon, aku sudah bahagia sekali melihat kalian berdua sedekat ini, dan sejujurnya aku tak ingin semuanya berakhir kacau karena pengakuan ini.”

“Arra, arraseo. Jadi yang sekarang bukan karena campur tanganmu kan?” Donghae memastikan.

“Satu juta persen tanpa campur tangan Shin Hyeonmi,” kata gadis sambil mengangkat telapak tangannya seolah sedang bersumpah di depan kitab suci.

“Arraseo, tapi Hyeonmi-ah, apa kau benar-benar tak ingin mengganti nama depanmu menjadi nama appa?” tanya Donghae kemudian.

Meskipun kini mereka sudah hidup sebagai kakak adik selama hampir dua belas tahun, tapi Hyeonmi masih tetap kekeuh memakai nama ayah kandungnya, dan bahkan gadis itu menolak dengan tegas saat dulu ayahnya menawari ia untuk mengganti namanya menjadi Lee.

“Aniyo, aku hanya akan mengganti namaku sekali, menggunakan nama suamiku suatu hari nanti,” jawab Hyeonmi sambil berdiri dan bersiap untuk keluar dari kamar Donghae karena merasa masalahnya dengan Donghae telah selesai.

“Sepertinya kau akan mendapatkan nama Lee nanti, bukan dari keluarga ini, tapi dari Lee Hyukjae.” timpal Donghae.

Seketika itu juga Hyeonmi yang belum keluar dari kamar Donghae segera berbalik, mengambil salah satu bantal di atas ranjang Donghae dan melemparkannya dengan keras ke arah pria itu, “Jangan berbicara tentang hal-hal konyol,” kata Hyeonmi sebal.

**

A Few Days Later…

 

Ryeon menerima permen kapas yang disdorkan Donghae padanya, dan langsung mencuili makanan itu dengan penuh semangat. Malam ini mereka sedang berjalan-jalan di Namsan Tower, salah satu tempat wisata khas yang dimiliki oleh Korea.

Setelah naik ke atas Namsan Tower, menuliskan nama mereka berdua dalam sebuah gembok dan menguncinya diatas, mereka kembali turun untuk menikmati indahnya pemandangan lain di Namsan. Menikmati suasana ramai, berpegangan tangan di tengah keramaian tersebut, dan bahkan beberapa kali berpelukan seperti pasangan kekasih lainnya.

Ryeon terlihat begitu bahagia, sudah beberapa tahun sejak terakhir kalinya ia mendatangi tempat ini bersama dengan kakaknya dulu, sebelum Jongwoon menikah. Sementara ayahnya selalu sibuk dengan perjalanan bisnis keluar negeri, dan saat ia masih bersama dengan Lee Joon sangat jarang mereka berdua bisa pergi bersama sebebas ini.

Seperti yang seharusnya, intensitas Donghae menemui Ryeon memang semakin sering, dan semakin membuat orang-orang di sekitar mereka curiga tentang hubungan mereka berdua. Sebut saja, Hyeonmi yang setiap hari bahkan menginterogasi Donghae tentang hubungan mereka berdua apakah telah resmi berkencan atau masih sebatas pendekatan. Sementara di sisi Ryeon, kakaknya dan juga kakak iparnya yang paling rajin menanyai gadis itu tentang perkembangan hubungan mereka. Sedangkan ayahnya yang jarang berada di Korea dan hanya mendengarkan laporan tentang Ryeon dan Donghae dari bibi Ahn benar-benar merasa bahagia melihat putrinya yang sempat kehilangan semangat hidup kini bahkan kembali dengan kondisi lebih baik, dan lagi dengan sosok yang benar-benar sesuai dengan yang diinginkan oleh ayah Ryeon.

“Oh, itu,” reflek Ryeon menutup matanya saat melihat sepasang kekasih yang sedang berciuman tepat dibawah salah satu pohon yang ada disini. Pipinya merah, karena mendapati adegan tanpa sensor tersebut sedang berlangsung tepat di hadapannya.

“Waeyo? Apa yang salah?” tanya Donghae geli.

Seketika itu juga Ryeon menciut, teringat bahwa ia dan Donghae pun pernah melakukan hal serupa saat di depan kolam ikan di taman kanak-kanan beberapa hari yang lalu. Sementara Donghae tertawa melihat gadis itu saat ini, sepertinya dia sudah sangat terbiasa dengan segala tingkah polos dan lucu gadis itu, terutama sejak frekuensi mereka berdua meningkat belakangan ini. Dan ia sangat menikmati semua itu.

Lalu tiba-tiba Donghae teringat obrolannya dengan Hyeonmi beberapa hari yang lalu, dan ia benar-benar tidak bisa untuk menaham dirinya untuk tidak bertanya hal itu.

“Ryeon-ah, apa hal yang ingin ku tanyakan, boleh?”

Ryeon berhenti memakan arum manisnya, dan menatap Donghae. Apa yang mau dia tanyakan? Batin Ryeon heran. Jangan-jangan… pria ini berniat untuk mengungkapkan perasaannya, saat ini juga? Saat itu juga Ryeon merasakan degupan jantungnya mulai lebih cepat lagi, seperti tidak siap untuk mendengarkan pernyataan itu.

“Mmmm.. wae?” jawab Ryeon. Deg, deg, deg rasanya jantungnya benar-benar seperti ingin lepas karena dia sama sekali belum mempersiapkan apapun jika dugaannya tentang apa yang ditanyakan Donghae adalah benar.

“Apa dulu, kau dan Hyeonmi pernah membuat perjanjian?”

Jika saja mulut Ryeon masih penuh dengan permen kapas, dia pasti sudah habis tersedak. Untung semua permen kapas di dalam mulutnya telah habis ditelan, jadi saat ini gadis itu hanya bisa bengong.

“Perjanjian? Perjanjian apa maksudnya?” tanya Ryeon sok santai. Padahal jelas sekali terlihat saat ini gadis itu tengah gugup setengah mati, dia tak tahu jika Donghae sebenarnya sudah mengatahui semua dari Hyeonmi.

“Hmmm.. sesungguhnya aku benar-benar malu untuk membahas hal ini, tapi.. perjanjian ini tentang Hyeonmi yang memintamu untuk mendekatiku.”

Saat ini tak peduli ada atau tidak ada permen kapas di dalam mulut Ryeon, gadis itu benar-benar tersedak. Bagaimana ini, mungkinkah saat ini Donghae benar-benar marah padanya?

“Uhuuuk… Uhuuuk..”

“Gwenchana?” tanya Donghae khawatir. Pria itu menepuk-nepuk punggung Ryeon lembut dan merasa bersalah karena sudah mengajuka pertanyaan yang membuat gadis itu tersedak karena terkejut.

“Aniyo, gwenchana.. gwenchana.” Potong Ryeon.

“Mian, pertanyaanku membuatmu terkejut.”

“Gwenchana..” Ryeon menggigit bibirnya.

Gadis itu memutar otaknya, mencoba mencari alasan lain untuk dikatakan pad Donghae karena jika sampai dia tahu, laki-laki ini pasti akan marah pada Hyeonmi. Tapi jika dia harus membuat kebohongan lagi tentu saja itu akan membuatnya canggung lagi, ini masih permulaan hubungan mereka jadi bagaimana bisa Ryeon membuat kebohongan pada Donghae.

Sementara Donghae melihat bagaimana kebongungan yang kini mulai dirasakan oleh Ryeon, sehingga pria itu menambahkan, “Tenanglah, Hyeonmi sudah mengatakan semua. Aku hanya ingin memastikan lagi,”

Ryeon melongo lagi, jadi sesungguhnya Donghae sudah tau? Dan pria ini hanya ingin memastikan padanya saja tentang kebenaran hal itu? atau mungkin Donghae ingin menguji kejujurannya, apakah Ryeon akan mengatakan yang sejujurnya atau mungkin akan berkelit menyanggah dan memberikan alasan-alasan lain.

Disisi lain gadis itu merasa lega, karena ia belum sempat mengatakan apapun apalagi sampai berbohong pada Donghae sehingga otomatis ini tak akan menimbulkan masalah yang lebih diantara mereka.

“Yahh.. kalau kau sudah tau apa yang harus kukatakan lagi? Iya itu benar..” Ryeon menelan ludah. Dia merasa malu sekali karena sudah kedapatan pernah melakukan perjanjian konyol itu di belakang Donghae, “Tapi kami telah membatalkan perjanjian konyol itu,” tambahnya cepat, takut jika Donghae mengira saat ini mereka dekat karena perjanjian gilanya dengan Hyeonmi.

“Ne, Hyeonmi juga sudah mengatakannya,” Donghae melangkah maju satu langkah di depan Ryeon, lalu berputar menghadap gadis itu, “Jadi.. saat ini kita dekat bukan karena paksaan Hyeonmi kan?” tanya pria itu memastikan.

Ryeon kontan menggeleng. “Bukan, tentu saja bukan. Oppa,” jawab Ryeon sambil menekankan panggilan ‘oppa’nya.

Donghae tersenyum, sementara sebenarnya masih merasa tak nyaman dalam hatinya, “Awalnya, aku memang mendekatimu karena permintaan Hyeonmi. Gadis itu tak tega melihat kau kecewa terus menerus karena pernah disakiti wanita itu. Tapi setelah aku mengenalmu lebih jauh, aku benar-benar berterimakasih pada Hyeonmi. Seandainya dulu gadis itu tidak pernah membuat permintaan demikian, mungkin aku tidak akan pernah tau bahwa kau adalah lelaki paling baik di dunia ini,”

“Apa aku tak terlihat baik dari luar?”

Ryeon tertawa sejenak, merasakan dirinya kini mulai kembali nyaman dan perasaan bersalahnya yang sebelumnya sudah mulai hilang.

“Aku juga senang karena kesempatan yang kau berikan, Gomawo Ryeon-ah,,”

Ryeon hanya bisa merah padam seperti kepiting rebus saat menyadari tangan Donghae sudah melingkari bahunya. Rasanya aneh, tapi juga hangat. Sama seperti ketika Donghae memeluknya sebelum-sebelum ini.

Dengan heran Ryeon tersadar, perasaan seperti inilah yang dulu dimilikinya saat Lee Joon disisinya. Sekarang ada orang lain yang mampu menghadirkan perasaan yang sama di hatinya seteah pria itu pergi.

**

One month later..

 

Ryeon keluar dari kamar tamu di rumah kakaknya dengan sedikit malas. Setibanya di ruang tamu, gadis itu segera mengehempaskan tubuhnya diatas sofa yang berada di ruang tamu kediaman kakaknya. Perlahan matanya tertutup, dan ia dapat merasakan kehadiran kakak iparnya yang mendekat, hanya saja gadis itu terlalu malas untuk membuka matanya saat itu juga.

“Waeyo?” tanya Sojin sambil mengambil tempat di samping Ryeon.

“Eonni, otoke? Ini sudah satu bulan ebih sejak Donghae-oppa mengatakan bahwa ia ingin mendekatiku. Tapi sampai saat ini dia belum ada tanda-tanda apapun dari pria itu untuk memperjelas status hubungan kami.” Ryeon mencerocos panjang lebar karena gelisah pada tingkah Donghae yang belum juga terlihat ingin segera menyatakan perasaannya.

“Sabar Ryeon-ah, bukankah Donghae sudah jelas-jelas menunjukkan bahwa ia menyukaimu? Perhatian, sering mengajak jalan-jalan, dan dia juga terang-terangan meminta kesempatan padamu untuk menggantikan tempat Lee Joon. Semua itu sudah cukup menunjukkan kalau dia benar-benar menyukaimu. Tentang peresmian status, itu hanya masalah waktu,”

Ryeon membuka matanya dan menoleh menghadap sang kakak ipar, “Jadi aku harus menunggu?” Ryeon berusaha memastikan kembali, berharap Sojin memiliki saran yang lebih baik.

“Geurom.. kecuali kau mau menyatakan perasaanmu terlebih dahulu,”

“Shireo.. naneun yeoja,”

“Geurom wae? Bukankah kau sudah tidak sabar?” tantang Sojin lagi, “Jadi bersabarlah, arra? Eonni senang melihatmu sekarang, dan eonni benar-benar berterimakasih pada Donghae yang telah membuat semangatmu kembali. Tenanglah, dalam waktu dekat Donghae pasti akan menyatakan perasaanya padamu,”

Ryeon terdiam. Hari ini ia benar-benar dibuat gelisah oleh pria bernama Lee Donghae itu. jika di hari-hari lainnya ia bisa menahan dirinya sendiri, entah mengapa berbeda sekali dengan hari ini, bahkan saat tadi siang pria itu mengatakan akan menjemputnya malam ini ia sudah bersemangat seperti biasa dan bahkan ia sudah bersiap-siap jika saja Donghae akan menyatakan perasaannya pada Ryeon, akan tetapi saat Donghae bilang dia ingin mengajak Ryeon untuk mengenalkannya pada sahabat-sahabatnya tiba-tiba saja harapan itu luluh.

Tentu saja Ryeon bisa menebak tipe pria seperti Donghae pasti tidak akan mengatakan perasaannya di depan sahabat-sahabatnya. Pria itu akan lebih memilih waktu yang intim berdua, baru kemudian menyatakan perasaannya pada Ryeon, dan itu pasti tidak akan terjadi malam ini.

Mendengar ponselnya yang berdering, Ryeon segera merogoh isi tas jinjingnya dan membuka pesan singkat yang berasal dari Donghae. Pria itu sudah berada di bawah, menunggu Ryeon untuk turun dan akan segera membawanya menemui teman-temannya.

Menuruti nasihat kakak iparnya, Ryeon berusaha bersabar malam ini ketika berada di dekat Donghae. Sudah berulang kali selama ini pria itu menunjukkan tanda-tanda ingin menyatakan perasaannya, tapi ujung-ujungnya pria itu hanya membuat tindakan-tindakan manis pada Ryeon, seperti memberi Ryeon bunga atau mengajak gadis itu menjelajahi kafe demi kafe yang terkenal di Seoul dengan menunya yang sedap-sedap.

Dan lagi pula jika dia terus menerus mengharap Donghae akan segera meyatakan perasaannya, bukankah itu akan membuatnya jadi tak bisa menikmati setiap moment kebersamaannya dengan Donghae.

Akhirnya Ryeon berusaha bersantai dan setiap kali pikiran itu mulai menyerbu otaknya dua sudah punya berbagai alasan. Mungkin memang Dinghae sengaja ingin mencari moment terbaik dan mungkin juga peria itu sedang berusaha untuk memantapkan hatiya, lagipula jika mengingat dulu Donghae pernah patah hati karena wanita, bukankah saat ini pria itu pasti sedang berusaha keras menghilangkan pemikiran buruknya pada wanita seperti yang sebelumnya?

Ahh, mungkinkah dia yang terkesan kaku saat sedang bersama dengan Donghae? Atau mungkin Donghae takut jika gadis itu masih terbayang-bayang sosok Lee Joon? Memang, sampai saat ini Ryeon masih teringat Lee Joon beberapa kali, tapi saat ini ia telah terbisa dan menerima kenyataan bahwa pria itu sudah tenang di tempatnya. Saat ini Ryeon juga tahu, bahwa Tuhan mengambil Lee Joon adalah agar ia memiliki alasan untuk melupakan pria itu, dan juga agar Ryeon memiliki kesempatan untuk bisa menikmati masa-masa indahnya bersama dengan pria lain yang jauh lebih baik daripada Lee Joon.

“Hai, kita berangkat sekarang?” sapa Donghae saat langkah Ryeon telah sampai di depannya.

Ryeon mengangguk. Malam ini seperti yang dikatakan Donghae, ia ingin mengenalkan Ryeon pada teman-temannya di salah satu cafe Gangnam. Kebetulan malam ini salah satu teman Donghae yang bekerja sebagai seorang aktor sedang libur sehingga ada waktu untuk mereka berkumpul bersama.

Donghae membukakan pintu mobilnya untuk Ryeon dan membiarkan gadis itu untuk masuk terlebih dahulu. Setelah itu, dengan sedikit berlari pria itu menuju pintu mobil lainnya untuk masuk dan segera menjalankannya melintasi jalanan malam Seoul.

**

“Choi Siwon imnida,”

“Kim Ryeon imnida,” Ryeon menyambut uluran tangan pria bernama Siwon tersebut saat selesai memperkenalkan dirinya.

Pria ini adalah pria yang sering ia lihat di beberapa drama TV, dan kadang juga ia sering melihat foto pria ini yang terpampang di berbagai majalah fashion. Daebak, saat ini ia benar-benar bisa bertemu dengan seorang selebriti yang juga merupakan teman Donghae.

“Wonbin imnida,” sapa seorang lagi yang duduk di samping Siwon sambil mengulurkan tangannya.

Alisnya terangkat sejenak melihat pria itu mengatakan dirinya adalah Wonbin, namun kemudian gadis itu mencoba bersantai dan membalas uluran tangan tersebut. Dalam hati gadis itu masih sedikit tak percaya jika itu adalah nama asli lelaki ini, tapi mana mungkin di awal pertemuannya orang ini sengaja mengerjai Ryeon.

“Apa yang kau katakan?” Potong Donghae cepat saat melihat Ryeon yang sedikit bingung, tangan Donghae kemudian berusaha melepaskan jabatan tangan Hyukjae pada Ryeon, yang tampaknya cukup susah dilepaskan karena Hyukjae terus menggenggamnya “Namanya Lee Hyukjae, dan dia adalah mantan kekasih Hyeonmi.” kata Donghae yang secara reflek kemudian membuat tangan Hyukjae melemah dan terlepaslah jabatan tangan mereka.

“Apakah penting bagimu untuk memperkenalkan masa laluku?” kata pria itu lirih.

“Tentu saja, dia adikku,”

Sementara Ryeon hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya heran melihat tingkah Donghae yang ternyata akan berubah seperti anak kecil ketika sedang berkumpul dengan teman-temannya seperti ini. Waiter datang dan meletakkan satu botol wine dan dua botol coke diatas meja mereka, lengkap dengan empat gelas besar berisi es batu. Kemudian waiter tersebut juga menyerahkan buku menunya kepada mereka berempat, memberikan kesempatan pada mereka untuk memilih terlebih dahulu makanan yang akan mereka pesan.

Dari semua menu yang ada, Ryeon mengambil menu ringan yang ada dalam daftar makanan disana Club Sandwich, sementara ketiga pria yang berada satu meja dengannya tersebut juga menyebutkan menu pilihan mereka sendiri-sendiri.

Waiter mencatat sekali lagi lalu beranjak dari tempat tersebut. Hingga lima belas menit kemudian dia kembali dengan membawa seluruh pesanan dari meja mereka. Sambil menyantap menu pesanannya, ketiga pria itu mulai mengobrol tentang berbagai hal layaknya teman lama yang tak pernah bertemu.

Dari obrolan-obrolan itu pula Ryeon mengetahui mengapa saat ini hanya dia sendiri seorang wanita diantara ketiga pria ini. Itu karena Siwon yang seorang artis memang tidak berkencan secara terbuka, hal itu akan berpengaruh pada popularitasnya jika ia membawa gadisnya ke tempat ramai seperti ini. Hal itu mengingatkan Ryeon pada Hyeonmi yang sempat berpacaran dengan model Lee Jongsuk. Pantas saja saat itu mereka jarang keluar bersama, tidak seperti saat Hyeonmi berpacaran dengan Junhyung saat ini

Sementara Hyukjae, adalah seorang playboy kelas kakap, yang memiliki begitu banyak daftar kekasih, dan dari semua kekasihnya itu tak ada satupun yang benar-benar ia anggap serius. Pantas saja saat ini ia tak membawa kekasihnya untuk berkumpul bersama karena memang tak ada satupun dari kekasihnya itu yang benar-benar dianggap pantas untuk ia kenalkan di depan teman-temannya. Ahh, dari situ juga akhirnya Ryeon paham mengapa Hyeonmi sangat membenci pria ini, tentu saja karena dia adalah pemain wanita.

Tak jarang Hyukjae dan juga Siwon menceritakan tingkah kekanak-kanakan Donghae yang ternyata seringkali mengundang tawa dari teman-temannya. Ryeon awalnya tak percaya jika Donghae yang selama ini ia kenal memiliki sisi kekanak-kanakan karena selama ini saat berada dekat dengannya justru pria itu tampak dewasa dan juga seringkali romantis, tapi disisi lain ternyata pria itu memiliki sifat yang membuatnya merasa gemas.

Saat jam sudah menujukkan tengah malam, Siwon mengajak mereka untuk menyelesaikan pertemuan ini, alasannya adalah karena esok ia memiliki jadwa yang tak bisa ia tinggalkan jadi saat ini mereka harus segera pergi dan kembali ke rumahnya masing-masing. Donghae memanggil waiter yang tadi mengantarkan pesanan mereka sambil membawa buku kecil bersampul kulit cokelat berisi bill yang harus mereka bayar.

“Aku yang akan membayar bill hari ini,” kata Donghae pada teman-temannya.

Saat waiter datang, Donghae menerima buku cokelat tersebut, tapi tak sampai lima detik dia sudah menutupinya lagi, seakan-akan ada gambar mengerikan di dalam buku tersebut. Sekali lagi dia membukanya, dan kali ini ekspresinya berubah. Pria itu terlihat seperti orang khawatir, hingga membuat Ryeon bisa membayangkan sebentar lagi akan ada bulir-bulir keringat yang muncul di dahi Donghae.

“Wae?” tanya Hyukjae yang mulai mencium gelagat aneh di wajah Donghae.

“Kau benar-benar akan mentraktir kami kan?” tanya Siwon kemudian.

“Mmm.. tentu saja. Everything’s alright,” jawab Donghae dengan nada yang sama sekali tidak meyakinkan. Dari cara Donghae melirik waiter yang sedang menunggu di sebelah mereka, Ryeon yakin everything isn’t alright saat ini.

Akhirnya Ryeon paham apa yang menjanggal saat melihat Donghae yang mulai merogoh-rogoh saku celana jeansnya, dan tampangnya yang terlihat semakin buruk. Gadis itu mengerti karena Donghae terus-menerus melihat kearah buku bill yang ada di meja.

Apa uang Donghae kurang untuk membayar bill tersebut? Atau mungkin dompetnya tertinggal di rumah? Pasti pria itu malu setengah mati di depan teman-temannya, apalagi tadi ia sempat mengatakan akan membayar semuanya malam ini.

“Oppa, ada masalah dengan bill-nya?” tanya Ryeon dengan suara rendah, takut-takut jika sampai terdengar di depan teman-teman Donghae.

Dia sebenarnya juga merasa tak enak harus bertanya seperti ini pada Donghae, bagaimana jika nanti Donghae justru merasa terhina karena Ryeon menganggapnya tak mampu membayar bill mereka? Bukankah lelaki biasanya memiliki gengsi yang tinggi? Tapi jika gadis itu tidak bertanya, mungkin saja dia akan mati penasaran disini. Lagipula dia juga tidak merasa keberatan sama sekali jika harus membayar bill ini.

“Ani, aniya. Tak ada masalah dengan bill ini,”

Ryeon kembali mengernyit, seperti melihat ibu-ibu hamil tua yang tengah mengerang kesakitan karena kontraksi menjelang melahirkan, tapi malah berusaha mengaku-aku mengaduh jika jarinya baru saja terjepit pintu.

“Kau yakin?” tanya Hyukjae kemudian.

Donghae menggigit bibir, dan sekarang dia terlihat benar-benar ketakutan, “Yahh sebenarnya tidak terlalu yakin..” jawabnya lirih pada Hyukjae.

Ryeon mencelos. Benar dugaannya, Donghae pasti bersikap aneh seperti ini karena bill mereka yang everbudget. Takut-taku Ryeon meraih buku bill itu, berniat untuk segera membayarkan tagihannya dan menyelamatkan Donghae dari rasa malunya di depan teman-temannya.

Tapi saat buku itu terbuka, gadis itu hanya bisa melongo melihatnya apa yang tertulis di dalamnya. Bukan, bukan karena tagihannya yang selagit. Justru tak tertera tagihan apapun atau daftar makanan yang telah mereka pesan tadi. Yang ada disana hanyalah sebuah kertas berwarna biru lembut yang berkilau dengan huruf-huruf perak yang membentuk tulisan.

 

Would you be my girl?

 

Ryeon menurunkan buku bill itu dari hadapan wajahnya dan mendapati wajah Donghae, Hyukjae, Siwon, dan juga waiter tadi tersenyum. Dan dari senyuman Donghae, Ryeon dapat menangkap ada sebersit kegugupan di senyum itu.

“Ini..”

“Mian, telah membuatmu khawatir,” kata Donghae sambil tersenyum.

“Oppa, ige mwoya?”

What’s your answer?”

Ryeon menelan ludah. Dia nggak bisa bohong jika saat ini benar-benar diluar perkiraannya bahwa Donghae akan menyatakan perasaannya di depan teman-temannya seperti ini. Sudah beberapa hari belakangan ini dia menunggu untuk bisa menjawab pertanyaan itu, dan sekarang saat pertanyaan itu benar-benar diajukan kepadanya, rasanya lidahnya kelu.

Samar-samar Ryeon bisa mendengarkan suara cekikikan dari Hyukjae dan juga Siwon yang melihat betapa terkejutnya ia saat ini dan juga bagaimana Donghae begitu gugup saat melakukan hal ini.

“Terima.. terima.. terima..” seru Hyukjae dan juga Siwon pelan.

Tapi situasi tersebut hanya berlangsung selama beberapa detik, karena sesaat sesudah itu Ryeon kembali merasakan tegang.

“Ryeon-ah?” panggil Donghae. “Apa mungkin kau masih belum bisa melupakan Lee Joon? Apakah aku belum berhasil menggantikan dia?”

Ryeon mengerjap, berusaha setengah mati untuk tidak melakukan tindakan bodoh disini saking kacau balaunya perasaannya. Dia jelas tak ingin diingat sebagai gadis yang membentur-benturkan kepalanya diatas meja cafe karena mendapatkan pernyataan cinta dari seorang pria yang memiliki kadar ketampanan luar biasa ini kan?

Dalam pikirannya, Ryeon berusaha memflashback semua memorinya yang pernah dilalui bersama dengan Donghae. Saat pertama mereka berkenalan di pemakaman, mengobrol di tempat parkir, bertemu dengan Lee Joon, saat Donghae menjenguknya karena mengira Ryeon sedang sakit, sampai saat Donghae yang meminta untuk diberi kesempatan.

“Aku mau,” jawab Ryeon akhirnya yang disambil sorak sorai dari Hyukjae dan juga Siwon.

Kedua pria itu bertepuk tangan dan bersiul dengan keras sehingga membuat beberapa orang-orang yang berada di cafe tersebut menengok ke arah mereka semua. Dan tiba-tiba saja, dari ujung cafe tersebut, di sebuah panggung yang biasanya digunakan untuk life music diputarkan foto-foto semasa kecil Ryeon yang dapat ia perkirakan jika Donghae mendapatkan semua ini dari kakaknya atau mungkin juga dari bibi Ahn. Rupanya Donghae memang telah mempersiapkan semuanya ini, khusus untuk Ryeon.

Setelah parade foto-fotonya selesai, Donghae menarik tubuh Ryeon dan langsung memeluk erat tubuh gadis itu. Kepala Ryeon menempel di dada Donghae, sampai-sampai Ryeon bisa mendengarkan degup jantung Donghae. Seperti biasa pelukan Donghae terasa hangat, dan Ryeon benar-benar bersyukur karena pria ini miliknya saat ini. Officially.

“Cium.. cium.. cium..” lagi seru Siwon dan Hyukjae berusaha menggoda pasangan yang baru saja terbentuk itu membuat Ryeon setengah mati menahan malu. Tidak mungkin mereka akan berciuman di tempat terbuka seperti ini, pikir gadis itu.

Tapi ternyata pemikirannya berbeda dengan Donghae. Setelah mendengar seruan untuk mencium Ryeon, pria itu melepaskan pelukannya, dan mengangkat dagu Ryeon keatas, lalu menyambar bibir mungil Ryeon.

 

*TBC*

Iklan

6 thoughts on “Sweet Candy [Part 5]

  1. huufffttt.. ikut tegang bareng donghae pas nunggu jawaban dari ryeon

    ahir’y ryeon move on juga 🙂
    kenapa q jd ngarep kao hyeonmi balikan sama hyukjae ya.. bikin hyukjae jadi playboy insyaf kyak’y seru kkk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s